Sobat, lebih dari 14 abad silam, Rasulullah Muhammad SAW, diutus di tengah masyarakat kufur Quraisy untuk ngajak mereka menyembah Allah SWT. Soal ini, pasti sobat smua udah pada tahu. Gimana kondisi masyarakat Quraisy saat itu? Parah. Bener-bener parah. Mereka ga cuma suka berjudi, tapi juga suka menipu, berperang, membunuh anak perempuan, memperjual belikan budak, minum-minuman keras, berzina, nyembah berhala, percaya ama mistik dan klenik, serta segudang kemaksiatan yang bikin orang pada geleng-geleng kepala. Tapi bukan ajeb-ajeb lho hee…hee….
Sobat, lebih dari 14 abad pula, risalah Islam udah nyebar di seantero jagat raya. Risalah yang sempurna ini, juga udah nyampe di negeri ini. Saking klopnya risalah Islam ama penduduk negeri ini, hampir 87% penduduk Indonesia memeluk Islam. Seneng kan. Memang bener, dari segi jumlah, negeri ini punya penduduk muslim terbesar di dunia. Tapi masalahnya, hebat atau tidaknya pribadi muslim, ga dilihat dari jumlahnya. Sobat, ada kisah yang cukup berkesan. Saat perang Yarmuk, kaum muslimin lagi berhadapan dengan pasukan Romawi. Kalo sekarang sih, sebut aja Italia. Seorang tentara muslim terpukau ama jumlah tentara Romawi yang sangat besar. Dia lalu berkata, “Tentara Arab (Islam) terlalu kecil, dan pasukan Romawi sungguh sangat banyak. Betapa besar pasukan Romawi dan betapa kecilnya tentara Islam.” Mendengar ucapan tersebut, Khalid bin Walid yang notabene jadi Panglima kaum Muslimin, balik berkata, “Engkau seharusnya berkata, betapa besar pasukan Muslim dan betapa kecil pasukan Romawi, karena kebesaran sebuah pasukan ditentukan oleh kemenangannya, dan kekerdilan sebuah pasukan disebabkan karena kekalahannya.” Nah sobat, begitulah ucapan seorang muslim. Ucapannya udah nunjukin pribadinya. Keren abis deh pokoknya.
Now, back to the topic. Dihubungin ama ucapan Khalid bin Walid tadi, udah sepantasnya kita introspeksi diri. Usia risalah Islam, yang sudah bisa dibilang matang, ternyata ga sematang umatnya dalam menjadikannya way of life. Umat Islam saat ini dihadapan bangsa-bangsa non-muslim, ga sebanding ama jumlah umat Islam yang meluber seantero dunia.
Sobat, risalah Islam udah lengkap, orang-orang yang memeluk Islam juga banyaknya ga ketulungan. Trus sebenarnya apa sih yang hilang dari Islam dan kaum Muslimin? Gimana sih cara kita supaya bisa nyaingin mereka atau kalo bisa melebihi mereka?
Nah, kita analisa satu-satu deh. Pertanyaan pertama, sebenarnya ga ada yang hilang dari Islam. Kita kan udah ngerti kalo risalah Islam udah sempurna alias Perfect! Yang ga ada sekarang adalah pemahaman yang bener tentang Islam di benak kaum muslimin.
Sobat ngerti kan, kalo dulu Rasulullah diutus untuk benerin pemahaman masyarakat Quraisy yang salah kaprah tentang Tuhan, plus ngasih Islam sebagai solusi kehidupan. Nah, risalah Islam tadi ga cuma berlaku buat orang-orang Quraisy aja, termasuk kita juga lho. Trus gimana metode Rasulullah untuk memperbaiki kondisi saat itu? Ya dengan dakwah. Yup, menyeru umatnya untuk tunduk pada Islam dan aturannya.Ga jauh beda dengan kondisi saat ini. Sobat kita yang memeluk Islam tapi masih seneng dugem and pacaran, ga ada salahnya kalo diingatkan. Alias didakwahi. Karena yang salah dari mereka bukanlah Islam yang mereka anut, tapi pemahaman tentang pergaulan yang miss communication. Nah, ngingatin orang itu hukumnya wajib lho. Dosa kalo ga kita lakukan. Betul ga…??
Tapi perlu diketahui juga, kalo berdakwah tuh ada cara nya, yaitu dakwahkan apa yang kamu pahami dan dapatkan keorang terdekatmu dan ingatkan mereka dengan cara yang ikhsan alias baik. Ga perlu ampe ngotot segala. Yang penting risalah Islam tersampaikan dan dia ngerti apa yang kita berikan. Gitchu….
Pertanyaan kedua, kita ga ketinggalan kok dari orang-orang non-Islam. Risalah Islam yang sempurna justru jauh lebih berkualitas dibanding hukum-hukum mereka. Omongan soal demokrasi, HAM, liberalisasi dan lain-lain, hanya gincu semata.. Justru Islam punya risalah yang ngatur smua masalah yang ada dunia ini jauh lebih sempurna. Kok bisa? Ya iyalah, wong yang bikin risalah adalah Allah SWT. Justru kalo kita pake risalah Islam sebagai sumber hukum dan aturan, kita malah bisa melejit jauh di atas mereka. Tinggal kita sekarang mau apa ga untuk belajar Islam lebih giat supaya mampu jadi intelektual muslim yang sejati.
Nah, sudah saatnya kita berkiprah di jalan dakwah. Melanjutkan kehidupan Islam di dunia ini. Rawe-rawe rantas malang-malang putung. Allahu Akbar!!
Sobat, lebih dari 14 abad pula, risalah Islam udah nyebar di seantero jagat raya. Risalah yang sempurna ini, juga udah nyampe di negeri ini. Saking klopnya risalah Islam ama penduduk negeri ini, hampir 87% penduduk Indonesia memeluk Islam. Seneng kan. Memang bener, dari segi jumlah, negeri ini punya penduduk muslim terbesar di dunia. Tapi masalahnya, hebat atau tidaknya pribadi muslim, ga dilihat dari jumlahnya. Sobat, ada kisah yang cukup berkesan. Saat perang Yarmuk, kaum muslimin lagi berhadapan dengan pasukan Romawi. Kalo sekarang sih, sebut aja Italia. Seorang tentara muslim terpukau ama jumlah tentara Romawi yang sangat besar. Dia lalu berkata, “Tentara Arab (Islam) terlalu kecil, dan pasukan Romawi sungguh sangat banyak. Betapa besar pasukan Romawi dan betapa kecilnya tentara Islam.” Mendengar ucapan tersebut, Khalid bin Walid yang notabene jadi Panglima kaum Muslimin, balik berkata, “Engkau seharusnya berkata, betapa besar pasukan Muslim dan betapa kecil pasukan Romawi, karena kebesaran sebuah pasukan ditentukan oleh kemenangannya, dan kekerdilan sebuah pasukan disebabkan karena kekalahannya.” Nah sobat, begitulah ucapan seorang muslim. Ucapannya udah nunjukin pribadinya. Keren abis deh pokoknya.
Now, back to the topic. Dihubungin ama ucapan Khalid bin Walid tadi, udah sepantasnya kita introspeksi diri. Usia risalah Islam, yang sudah bisa dibilang matang, ternyata ga sematang umatnya dalam menjadikannya way of life. Umat Islam saat ini dihadapan bangsa-bangsa non-muslim, ga sebanding ama jumlah umat Islam yang meluber seantero dunia.
Sobat, risalah Islam udah lengkap, orang-orang yang memeluk Islam juga banyaknya ga ketulungan. Trus sebenarnya apa sih yang hilang dari Islam dan kaum Muslimin? Gimana sih cara kita supaya bisa nyaingin mereka atau kalo bisa melebihi mereka?
Nah, kita analisa satu-satu deh. Pertanyaan pertama, sebenarnya ga ada yang hilang dari Islam. Kita kan udah ngerti kalo risalah Islam udah sempurna alias Perfect! Yang ga ada sekarang adalah pemahaman yang bener tentang Islam di benak kaum muslimin.
Sobat ngerti kan, kalo dulu Rasulullah diutus untuk benerin pemahaman masyarakat Quraisy yang salah kaprah tentang Tuhan, plus ngasih Islam sebagai solusi kehidupan. Nah, risalah Islam tadi ga cuma berlaku buat orang-orang Quraisy aja, termasuk kita juga lho. Trus gimana metode Rasulullah untuk memperbaiki kondisi saat itu? Ya dengan dakwah. Yup, menyeru umatnya untuk tunduk pada Islam dan aturannya.Ga jauh beda dengan kondisi saat ini. Sobat kita yang memeluk Islam tapi masih seneng dugem and pacaran, ga ada salahnya kalo diingatkan. Alias didakwahi. Karena yang salah dari mereka bukanlah Islam yang mereka anut, tapi pemahaman tentang pergaulan yang miss communication. Nah, ngingatin orang itu hukumnya wajib lho. Dosa kalo ga kita lakukan. Betul ga…??
Tapi perlu diketahui juga, kalo berdakwah tuh ada cara nya, yaitu dakwahkan apa yang kamu pahami dan dapatkan keorang terdekatmu dan ingatkan mereka dengan cara yang ikhsan alias baik. Ga perlu ampe ngotot segala. Yang penting risalah Islam tersampaikan dan dia ngerti apa yang kita berikan. Gitchu….
Pertanyaan kedua, kita ga ketinggalan kok dari orang-orang non-Islam. Risalah Islam yang sempurna justru jauh lebih berkualitas dibanding hukum-hukum mereka. Omongan soal demokrasi, HAM, liberalisasi dan lain-lain, hanya gincu semata.. Justru Islam punya risalah yang ngatur smua masalah yang ada dunia ini jauh lebih sempurna. Kok bisa? Ya iyalah, wong yang bikin risalah adalah Allah SWT. Justru kalo kita pake risalah Islam sebagai sumber hukum dan aturan, kita malah bisa melejit jauh di atas mereka. Tinggal kita sekarang mau apa ga untuk belajar Islam lebih giat supaya mampu jadi intelektual muslim yang sejati.
Nah, sudah saatnya kita berkiprah di jalan dakwah. Melanjutkan kehidupan Islam di dunia ini. Rawe-rawe rantas malang-malang putung. Allahu Akbar!!
