Minggu, 07 Oktober 2007

JOMBLO vs PACARAN

Edisi 13 tahun II

23 Februari 2007 / 05 Safar 1428 H


Jomblo. Satu kosakata yang sangat di takuti oleh banyak orang saat ini terutama remaja. Why? Karena kosakata ini mengandung makna negatif yang bikin alergi. Suatu pertanda tidak lakunya seseorang untuk mendapatkan teman dekat dari lawan jenis.(Nggak laku? Emanknya jualan singkong?).

Tapi asli kok, banyak bangetz remaja apalagi kalangan cewek yang merasa seperti kena kutukan kalo sampe predikat jomlo mereka sandang. Akhirnya dengan berbagai cara mereka berusaha untuk melepaskan kutukan itu meskipun dengan berbagai cara. Pada tau film 30 Hari Mencari Cinta gak? Di film itu kan menceritakan tiga orang remaja cewek yang sama – sama berada pada kondisi jomblo. Mereka membuat kesepakatan untuk mencari pacar dalam waktu 30 hari. Bagi yang menang, maka ia akan menjadi raja dan diperlakukan bak putri karena semua pekerjaan rumah akan dikerjakan oleh yang kalah.

So, Ternyata predikat jomblo begitu menakutkan bagi sebagian remaja yang miskin iman. Mereka lebih memilih jalan maksiat dengan pacaran daripada menyandang status ini. Meskipun seringkali dalam pacaran mereka terpaksa, bisa karena dipaksa teman, bisa juga dipaksa diri sendiri karena konsep diri yang salah.

Belum lagi dorongan media, baik cetak maupun elektronik yang menawarkan gaya hidup bebas dengan label pacaran yang semakin gencar di lakukan. Padahal apa sih yang bisa didapaetin dari pacaran?

Kenapa harus pacaran?

Hayo pada bisa gak ngejawab pertanyaan ini? Hmm… mungkin sebagian sobat ada yang menjawab: ‘biar gak kuper’,’biar nggak dibilang gak laku?’,’biar ada semangat belajar’ dll. Masih banyak alasan yang bisa diajukan unuk pembenaran.

Secara garis besar pacaran adalah aktivitas yang dilakukan berdua (berkhalwat) sebelum menikah. Aktivitas ataw kegiatan ini bisa bermacan-macam bentuknya. Bisa nonton bareng, jalan berdua dll. (pokoknya yang dilakukan berdua lah.).

Kalo kamu sekedar tajut dibilang kuper karena nggak mau pacaran, maka mereka para aktivis pacran itulah yang sebenarnya kuper, dan ndeso’ bin katro’ sedunia. Why? Karena orang pacarn tiu dunianya akan berkutatt dari pengetahuan tentang doi aja. Coba kita semua tanyain tentang perkembangan berita terkini !!! mungkin salah satu contohnya, Apakah ia tahu di Palestina sedang terjadi masalah apa? Mungkin sebagian besar dari aktivis pacaran tersebut pada bengong semua menanti ilham jawaban yang tak akan pernah datang untuk pertanyaan yang kita berikan.

Yakin deh, pasti mereka yang pacaran itu nggak bakalan tau topik yang beginian. Kalo begitu mereka lah yang ndeso bin katro. Paling tahunya cuman apa hobi sang pacar, apa warna favoritnya, dll. Coba tanya berapa nilai ulangan matematikanya?, fasih gak bahasa Inggrisnya? Pasti deh aktivis pacaran pada njelimet otaknya klo untuk hal beginian. Kalopun ada yang pintar, itu sama sekali nggak ada hubungannya dengan pacaran sbagai semangat belajar. Sebaliknya, pacaran adalah ajang kemaksiatan.

Jomblo adalah pilihan

Kok bisa? Ya bisa dunkz. Why not gitu loh? Kondisi jomblo adalah kondisi independen yang mandiri. Di saat teman – teman tidak bisa hidup tanpa gebetan ( Ceilee… ngeri amat yee. Khan yang bener kita tidak bisa hidup tanpa udara, air dan makanan. Bener gak? ) tapi kita harus merasa sebaliknya, jangan ampe kita manja, menjadi tergantung dan merasa lemah bila ndak ada do’i. (Capee… deh ). Meskipun ada teman yang memilih pacaran sebagai jalan hidup, kita kudu tetep kuekueh terhadap pendirian kita. “Jomblo is my Choice”. (Salah kata ya… maafin yee khan baru sama – sama belajar).

Jangan pariah takut diolok teman sebagai jomblo. Jangan pariah malu untuk disebut nggak laku. Toh mereka yang berpacaran saat ini belum tenu juga jadi nikah nantinya. Betul tidak? Malah banyak yang putus di tengah jalan, patah hati truz bunuh diri. Hii, naudzubillah, ataw bisa jadi karena takut dibilang jomblo mlah bisa dapetin gelar MBA bagi ceweknya tanpa harus kuliah alias Married By Accident.

Intinya predikat jomblo jauh lebih baik daripada pacaran karena takut dosa dan menjadi jomblo jauh lebih bermartabat apabila diniatkan menjauhi maksiat. Menjadi jomblo sama dengan shaleh dan sholihah kalo iu diniatkan karena Allah semata. Bukankah hidup ini Cuma sementara aja tuh? Jadi rugi bangetz kalo hidup yang sekali ini nggak kita bikin berarti. So, apabila ada yang rese dengan status jomblo kita, katakan aja “Jomblo, So What Geto Loh”. (Bi2et S)

1 komentar:

V_j@y mengatakan...

Assalammu'alaikum
Wah isinya bagus banget. bener2 menampilkan permasalahan Anak Muda + ada ibrohnya pula... Ana harap isinya bisa update alias terus baru biar kagak bosen ngebacanya. Ok.
Asaalammu'alaikum