Minggu, 07 Oktober 2007

ASSALAMU'ALAIKUM WA RAHMATULLAHI WA BARAKATUH

Edisi 2 tahun 3
19 Rajab 1428 H / 3 Agustus 2007 M

Ya, tentu saja kita semua tau… judul diatas merupakan sesuatu amalan yang ringan untuk diucapkan oleh siapa saja dan juga mempunyai fadillah yang amat besar.(Betul gak?) Hmm… tapi apakah kita semua sudah sering mengamalkannya serta menyerapi apa makna dari kalimat yang sangat indah ini bila ? (Udah belom??)

Dari Abdullah bin Amr bin Ash, bahwasanya ada seorang yang bertanya kepada Rasulullah Saw: Bagaimanakah Islam yang baik itu?" Beliau menjawab, "Yaitu mau memberi makanan dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan kepada orang yang belum kamu kenal." (HR. Bukhari Muslim).

Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh. Salam itu tak lagi terdengar sumbang di telinga, karena ia nyaris sudah menjadi budaya. Kini nyaris semua orang menjadikannya sebagai salam pembuka, pengawali teks pidato, memulai ceramah, mengantarkan pembicaraan dan sapaan kesopanan. Hingga ia pun terdengar sama, seperti halnya selamat pagi, punten, permisi kulonuwun....

Namun mungkin tak banyak yang masih mengingat, Sang Kekasih Allah telah bersabda, bahwa ucapan itu menjadi salah satu parameter kebaikan seorang muslim, sebagaimana diriwayatkan Bukhari dan Muslim di atas; Berislamlah dengan baik dengan mengucap salam kepada yang engkau kenal dan tidak engkau kenal...

Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh. Ucapan ini sudah sedemikian akrab di lidah ummat muslim. Tiada kaku orang mengucapkannya. Baik yang memang setiap hari menyebutnya minimal lima kali sehari di akhir shalat, maupun mereka yang hanya membasahi lidah dengan salam di acara-acara resmi.

Tapi sudahkah ia menjadi menjadi sarana pengikat cinta…??? (Mmm… sudah belum ya? hayo ngaku. He…3x). Sebagaimana kabar yang disampaikan Abu Hurairah ra? Ia berkata: Rasulullah Saw bersabda, "... Maukah kamu sekalian aku tunjukkan sesuatu yang apabila kamu mengerjakannya maka kamu sekalian akan saling mencintai? Yaitu sebarkanlah salam diantara kamu sekalian". (HR Muslim).

Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh. Sobat muslim semua, sungguh kalimat ini amat mudah diucapkan. Hingga terkadang banyak diantara kita yang meremehkan. Bahkan ada pula yang hendak menggantikan kalimat yang indah ini dengan ucapan selamat pagi, atau sapaan lokal dan teritorial lainnya. Tidakkah kita semua teringat kata seorang sahabat, Abu Yusuf (Abdullah) bin Salam ra: Saya mendengar Nabi 'alaihissalaam bersabda: "Hai sekalian manusia, sebarluaskanlah salam, berikanlah makanan, hubungkanlah tali peraudaraan, dan shalatlah pada waktu manusia sedang tidur, niscaya kamu sekalian akan masuk surga dengan selamat." (HR Turmudzi). Duhai, alangkah nikmatnya! Ternyata tiket surga tidak mahal. 'Cukup' dengan menyebarkan salam.

Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakatuh. Sobat, betapa cintanya Rasulullah SAW dengan untaian kata ini. Hingga tak lepas lisannya dari salam di setiap waktu dan kesempatan. Saat mendatangi suatu kaum, Rasulullah mengucapkan salam ini dengan diulang tiga kali. Saat Beliau melewati sekumpulan kaum wanita, saat bertemu dengan sekelompok anak-anak, saat bertamu atau memasuki rumahnya sendiri, doa rahmah itu mengalun indah dari bibirnya. Bahkan saat di dalam majelis, beliau tak bosan membalas salam sahabatnya yang hadir satu persatu, pun ketika mereka satu demi satu kemudian meninggalkan majelis dan kembali mengucap salam.(Subhanallah!).Bahkan beliau pernah bersabda: "Apabila salah seorang diantara kalian bertemu dengan saudaranya, maka hendaklah ia mengucap salam kepadanya. Dan seandainya diantara keduanya terpisah oleh pohon, dinding atau batu, kemudian bertemu kembali, maka hendaklah ia mengucapkan salam lagi". (HR Abu Dawud).

Maka sungguh sangat indah, jikalah salam itu disebarkan oleh wajah penuh senyuman, dihayati dan diresapi sebagaimana Abbas Assisi menyampaikan dalam surat-surat kepada sahabat-sahabatnya: Salaam Allah 'alaika wa rahmatuhu wa barakaatuh. Sungguh damai dan nyaman, jika salam kita sampaikan sebagai ta'abbudan (ibadah) dan mahabbah (kecintaan), bukan sekedar kebiasaan. Salaam Allah yaa Ikhwatii, ya khalilii, wa rahmatuhu wa barakatuh. (Semoga Allah memberikan kedamaian, kasih mesra dan barakahNya untukmu saudaraku, sahabatku). Doa tulus ini kupersembahkan untukmu .Wassalamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh.

PERUBAHAN DI TANGANMU WAHAI PEMUDA

Edisi 1 tahun 3

Pada suatu hari seorang petani menemukan sebutir telur angsa di halaman rumahnya dan memasukkan telur tersebut ke dalam kandang ayam di antara telur-telur ayam yang sedang dierami. Beberapa minggu kemudian telur angsa itu menetas dan karena berada di lingkungan ayam, sang anak angsapun berperilaku seperti ayam. Anak angsa tersebut makan seperti ayam, berkokok seperti ayam dan berkumpul di tengah-tengah para ayam.

Ketika sedang bermain-main di tengah hutan, tak jarang sang anak angsa memandang iri kepada kerumunan para angsa yang sedang berenang di tengah danau dan berharap di dalam hati seandainya saja ia mampu berenang dan menikmati indahnya danau seperti para angsa tersebut.

Hingga suatu hari, para pemburu liar yang mengejar mangsa buruannya ke tengah hutan melepaskan tembakan dan membuat panik para warga hutan. Sang anak angsa berlari dengan kencang hingga ia terhenti di tepi danau dan dengan kesedihan yang mendalam hanya mampu menyaksikan gerombolan para angsa berenang menyeberangi danau untuk menyelamatkan diri. Ia menyesal terlahir sebagai seekor ayam yang tidak mampu berenang. Di tengah-tengah kepanikan, kesedihan serta ketidakberdayaannya, sebutir peluru pemburu bersarang di tubuh sang anak angsa tersebut. Anak angsa itupun mati tanpa pernah mengetahui bahwa ia seekor angsa dan bahwa ia sebenarnya mampu survive dari kejaran pemburu tersebut.

Nah sobat… Ilustrasi di atas adalah gambaran umum dari kondisi para pemuda, khususnya para pemuda Islam, sekarang ini. Banyak di antara kita yang merasa cukup puas dengan apa yang telah kita raih, tanpa menyadari bahwa sebenarnya dengan potensi yang kita miliki dan dengan izin Allah s.w.t kita mampu untuk menjadi sesuatu yang lebih dahsyat. (Wow). Hmm… atau bahkan tidak sedikit pula diantara kita yang tidak pernah mengetahui potensi diri kita sesungguhnya, karena kita sudah merasa nyaman dengan tidak menjadi apa-apa. Kita hanya mampu memandang takjub dengan kegemilangan orang lain, tanpa pernah menyadari bahwa mungkin kita memiliki potensi yang sama atau bahkan lebih dari orang tersebut

Sobat, perubahan bukanlah sesuatu yang datang dari luar. Perubahan itu adalah suatu bagian integral dari eksistansi manusia dan hanya dapat dicapai dengan arah dari dalam ke luar. Perubahan itu ada di tangan kita sendiri. Allah s.w.t berfirman, bahwa Ia tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai kaum tersebut mengubah nasibnya sendiri.Sobat, dari firman Allah diatas dapat kita ketahui bahwa kitalah yang sebenernya pengemudi kendaraan perubahan itu dengan Allah swt sebagai penunjuk arahnya.

Stephen R. Covey, dalam bukunya yang terkenal 7 Habits of Highly Effective People, mengemukakan tentang konsep lingkaran pengaruh. Coba dech sobat semua bayangin dua buah lingkaran. Yang pertama lingkaran dalam yang meliputi segala sesuatu yang dapat kita kendalikan seperti diri sendiri, sikap kita, respon kita dan pilihan kita. Lalu yang kedua lingkaran luar yang mencakup segala hal yang berada di luar pengaruh kita

Memang, ada hal-hal di dunia ini yang tidak dapat kita kendalikan karena berada di lingkaran luar dari pengaruh kita. Kita tidak dapat menentukan jenis kelamin kita, orang tua yang melahirkan kita, waktu kematian kita, lingkungan tempat kita dibesarkan, cara kita dididik oleh orangtua kita dan sebagainya Tapi kita senantiasa dapat mengoptimalkan pengaruh dari lingkaran dalam yang mampu kita kendalikan. Kita dapat memilih respon, tindakan serta sikap kita dalam menghadapi hal-hal yang berada di luar pengaruh kita. Respon kita terhadap hal-hal tersebutlah yang akan menentukan nasib kita. Hal-hal yang berada di luar pengaruh kita tersebut hanya akan mampu mempengaruhi kita tapi tidak dapat menentukan nasib kita! Betul tidak…?

Nah kesadaran akan hal tersebut lah yang akhirnya nanti akan mampu mengubah paradigma kita dalam memperkokoh izzah Islam yang sebagian besar ditopangkan di pundak kita sebagai seorang pemuda. Kesadaran akan hal tersebut juga akan mampu menghancurkan tembok-tembok di sekitar kita yang menghalangi kita dalam menemukan potensi diri kita menjadi seseorang yang lebih baik dan membawa kemaslahatan bagi ummat.

Keterbatasan-keterbatasan yang kita miliki bukanlah suatu alasan untuk menghindari tanggung jawab moral kita sebagai seorang pemuda yang menjadi tumpuan harapan ummat. Tirulah semangat Beethoven, yang walaupun dengan keterbatasannya sebagai seorang tuna rungu pada akhir-akhir hayatnya, ia malah mampu menciptakan melodi-melodi indah yang dianggap sebagai sebuah karya jenius oleh para musisi. Dan teladanilah Rasulullah saw, yang dengan segala keterbatasannya sebagai seorang manusia biasa, walaupun ia diberi beberapa keistimewaan oleh Allah s.w.t., ia mampu mengubah kejahiliyahan menjadi suatau kecemerlangan. Ia mampu menjadikan segala sesuatau yang tidak mungkin dalam logika manusia normal menjadi mungkin dan ia juga mampu menjadi penerang bagi ummat hingga kini, bahkan tanpa kehadiran jasadnya sekalipun ia tetap hidup di hati ummatnya.Subhanallah…

Nah sobat muslim semua, mulailah menjadi bagian dari perubahan itu sekarang juga dengan berusaha mengenali dan menggali potensi yang kita miliki. Bukankah tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai suatu perubahan ke arah yang lebih baik. Dengan menjadikan Allah s.w.t. sebagai satu-satunya ghayyah. Bukan tidak mungkin alur cerita diatas akan berubah di mana sang anak angsa akhirnya menyadari bahwa ia adalah seekor angsa dan mulai membentangkan sayapnya, berenang melintasi danau sehingga ia terhindar dari tembakan sang pemburu.

MEMBANGUN MASA DEPAN

Edisi 17 tahun 2
11 Meil 2007 / 23 Rabiul Akhir 1428 H

Kita sepakat bahwa orang yang paling rugi di dunia ini adalah orang yang diberikan modal, tapi ia hamburkan modal itu sia-sia. Iya gak…? dan modal kita dalam hidup ini adalah waktu.

Sering kita tidak menyadari betapa berharganya jatah waktu yang kita miliki. Kita sering menghabiskan waktu produktif hanya untuk mencari pensil. Kita sering menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mengumbar ketidaksukaan kita, untuk memendam kedengkian atau kemarahan kita. Padahal, waktu berlanjut terus dan kita tidak tahu kapan hidup ini berakhir.

Oleh karena itu, Mahasuci Allah yang Mengungkapkan dalam QS. Al-'Ashr bahwa kerugian manusia itu dapat diukur dari sikapnya terhadap waktu. Kalau ia sudah berani menghamburkan waktunya, maka ia tergolong orang yang sudah menyia-nyiakan kehidupannya.

Penggolongan Waktu

Pertama, masa lalu. Meskipun sudah lewat tapi banyak orang sengsara hari ini gara-gara masa lalunya yang buruk banget. Karena itu, kita harus selalu waspada jangan sampai masa lalu merusak hari kita.

Kedua, masa depan. Kita pun sering panik menghadapi masa depan. Pekerjaan semakin sulit didapat, takut tidak mendapat jodoh, dan lainnya. Masa lalu dan masa depan kuncinya adalah hari ini. Dan inilah bentuk waktu yang ketiga itu. Seburuk apapun kita di masa lalu, kalau hari ini kita benar-benar bertaubat dan memperbaiki diri, insya Allah semua keburukan itu akan terhapuskan.

Maka sehebat apapun cita-cita di masa depan, taruhannya adalah masa kini. Pada saat sekarang kita duduk santai, tidak mau bekerja, dan pada saat yang sama orang lain bekerja keras, menempa diri, menimba ilmu, mengasah diri, dan memperkuat ibadahnya. Maka, suatu saat nanti akan bertemu rezeki yang harus diperebutkan oleh dua orang. Yang satu dengan ilmu dan wawasan. Dan yang satu lagi dengan kebodohan. (Hayo, kira – kira siapa yang bakal ngedapetin rezeki itu?)

Sobat, kita harus mulai menghitung apapun yang kita lakukan. Ucapan kita sekarang adalah bekal kita. Kita bisa jatuh besok lusa hanya dengan satu patah kata. Kita pun bisa menuai kemuliaan dengan kata-kata..

Karena itu, terlalu bodoh andai kita mau melakukan sesuatu yang sia-sia. Detik demi detik harus kita tanam sebaik mungkin, karena inilah bibit yang buahnya akan kita petik di masa depan. Kalau kita terbiasa berhati-hati dalam berbicara, dalam bersikap, dalam mengambil keputusan, dalam menjaga pikiran, dalam menjaga hati, maka kapan pun malaikat maut menjemput, kita akan selalu siap.

Ada tiga hal yang dapat kita lakukan agar masa depan kita cerah. Pertama, pastikanlah hari-hari yang kita jalani menjadi sarana penambah keyakinan pada Allah. Kita tidak akan pernah tenteram dalam hidup kecuali dengan keyakinan yang kuat pada Allah SWT. Pupuk dari keyakinan adalah ilmu. Orang-orang yang tidak suka menuntut ilmu, maka imannya tidak akan bertambah. Bila iman tidak bertambah, maka hidup pun akan mudah goyah.

Kedua, tiada hari berlalu kecuali jadi amal. Nah… Di mana pun kita berada lakukankanlah yang terbaik. Segala sesuatu harus menjadi amal. Dilihat atau tidak, kita tancaap terus. Karena rezeki kita adalah apa-apa yang bisa kita lakukan. Ketiga, orang yang beruntung adalah orang yang setiap hari terus melatih diri untuk menjadi pemberi nasihat dalam kebenaran dan kesabaran, dan yang setiap harinya melatih diri untuk menerima nasihat dalam kebenaran dan kesabaran.

JADILAH DIRI SENDIRI

Edisi 16 tahun 2
20 April 2007 / 02 Rabiul Akhir 1428 H

Sobat… Sesungguhnya salah satu pintu masuk menuju kebahagiaan adalah, ketika kita menjadi diri kita sendiri. Keyakinan kita dengan potensi, bakat, kekuatan dan karakteristik yang ada pada diri kita, membuat kita merasakan keistimewaan dan keunikan yang kita miliki. Janganlah ragu wahai sahabat, bila kita sudah menemukan bakat kita, sekalipun menurut orang lain adalah sesuatu yang “remeh”. Ketika kita menjadi diri kita sendiri, maka kita akan menjadi orang yang paling bahagia di dunia

Jika sobat berkumpul dengan orang-orang yang pintar pada satu bidang, yang mana bidang itu bukan keahlian sobat, maka jangan sobat katakan pada mereka bahwa keahlian yang mereka miliki juga sobat miliki. Keinginan sobat hidup dibawah bayang-bayang mereka justru akan melemahkan kedudukan sobat. Mengapa? Karena hal itu jelas akan menghilangkan kelebihan yang ada dalam diri sobat. sobat hanya berkutat pada kekurangan yang ada pada diri sobat sendiri. Dan jelas pada akhirnya akan melemahkan sobat, membuat tidak bisa melangkah lebih jauh, dunia ini terasa sangat sempit. Jack Trout dalam bukunya yang cukup mencerahkan, Differentiatie or Die, berkata tentang hal ini: “Jika Anda mengabaikan keunikan Anda dan mencoba untuk memenuhi kebutuhan semua orang, Anda langsung melemahkan apa yang membuat Anda ‘berbeda’.”

Wahai sobat Ghur semua… Tidak ingin menjadi diri kita sendiri disebabkan oleh keinginan kita untuk mendapatkan pujian manusia. Kita ingin menjadi populer di mata masyarakat. Sebuah hasil penelitian psikologi menyebutkan: orang-orang yang ingin menjadi populer seringkali tidak jujur. “Dan mereka sendiri senang dipuji dengan amal yang mereka sendiri tidak mengerjakannya.” (QS. 3: 188).

Membuat diri terkenal, itu bukan tujuan hidup kita. Kita hanya disuruh berbuat sebaik mungkin. Jika niat kita sudah salah, maka hasilnya pun akan tidak maksimal. Jika niat kita ingin terkenal tidak segera terwujud, kita hanya bisa larut dalam kesedihan karena tujuan hidup kita sudah terkandaskan. Sedangkan tujuan itu sendiri adalah final kehidupan. Tidak ada lagi kehidupan sesudah gagal mencapai titik final. Berbeda dengan orang yang menyesuaikan tujuan hidupnya hanya untuk beribadah kepada Allah; kegagalan dalam menghadapi sebuah episode kehidupan dunia ini bukan berarti kegagalan segala-galanya. “Jangan berambisi mencari popularitas, karena tabiat tersebut adalah indikasi dari kekeruhan jiwa, kegelisahan, dan keresahan.” (Dr. Aidh Al Qarni)

Seburuk apapun karya kita dan sekecil apa pun prestasi kita, hargailah itu! Semua itu kita peroleh dari hasil kerja keras kita, hasil kejeniusan otak kita, dan hasil kreativitas kita.

Sebuah kisah menyebutkan, seorang muslim yang fakir bernama Julaibib gugur dalam sebuah pertempuran melawan pasukan kafirin. Lantas Rasulullah SAW pun memeriksa orang-orang yang gugur dan para sahabat memberitahukan kepada beliau nama-nama mereka. Akan tetapi, mereka lupa kepada Julaibib hingga namanya tidak disebutkan, karena Julaibib bukan seorang yang terpandang dan bukan pula orang yang terkenal. Sebaliknya, Rasulullah ingat Julaibib dan tidak melupakannya; namanya masih tetap diingat oleh beliau di antara nama-nama lainnya yang disebut-sebut. Beliau sama sekali tidak lupa kepadanya, lalu beliau bersabda: “tetapi aku merasa kehilangan Julaibib!” Akhirnya, beliau menemukan jenazahnya dalam keadaan tertutup pasir, lalu beliau membersihkan pasir dari wajahnya seraya bersabda sambil meneteskan airmata: “Ternyata engkau telah membunuh tujuh orang musuh, kemudian engkau sendiri terbunuh. Engkau termasuk golonganku dan aku termasuk golonganmu; Engkau termasuk golonganku dan aku termasuk golonganmu; Engkau termasuk golonganku dan aku termasuk golonganmu.” Cukuplah bagi Julaibib dengan medali nabawi ini sebagai hadiah, kehormatan, dan anugerah.

Wahai sobat Ghur semua… Seperti Julaibib, tidak ingin menjadi orang terkenal dan terpandang. Seperti Julaibib, hidup menjadi dirinya sendiri. Seperti Julaibib, mengakhiri hidupnya dengan penuh kedamaian dan kebahagiaan. Tidakkah kita ingin mendapatkan apa yang telah didapatkan Julaibib?

KENAPA HARUS NYONTEK

Edisi 15 tahun 2

07 April 2007 / 19 Rabiul Awal 1428 H


Nyontek. Singkat,padat dan jelas, kan? Truz apalah artinya nyontek? Apakah bisa ngebikin hidup kita terasa beda. Tau gak sich kalo nyontek ini udah banyak digandrungi pelajar seperti sebuah ‘trendsetter’ . Sebuah kegiatan tanpa biaya banyak, truz gak pake ngajukan proposal bikin kita enjoy dan ketagihan kayak nyabu. (Cape deh !!).

Contohnya gak jauh – jauh amat kok. Waktu mid semester kemarin aja siapa sich yang gak nyontek? Hmm… ghur percaya koq sama sobat muslim semua pasti gak ada yang nyontek. Amieen…

Sobat, kita sebagai makhluk Allah sudah seharusnya ngikutin aturan yang udah ditetapkan Allah, jadi kita gak bisa seenaknya bikin peraturan sendiriyang udah jelas ngelanggar aturan-Nya.Ya… kaya nyontek gitulah. Emang sih ada yang bilang kalo nyontek itu usaha, istilahnya ikhitar gitu deh (arab-arab dikit gak papa kan?). Tapi ikhtiar yang gimana? Syar’i gak? Jangan mentang-mentang denger kata ikhtiar truz berarti bener. Kan ada istilah arabnya tuh! Berarti dalam islam dibolehkan. Eits… Jangan salah gak semua yang lo denger itu bener. Kok bisa? Ya iyalah. Coba deh sobat semua pikir. Ada gak sih nyontek yang islami?

Mmm… sekarang kita flashback aja. Sebenernya kalian nyontek tuh karena apa sih (jangan bilang ya karena Allah). Kepepet ato emang bener gak belajar ato dari kamunya sendiri yang males buat belajar. Buktinya aja pas ulangan dah nyiapin Note small ato istillah gaulnya Cerpe-an. Ada yang ditulis di meja. Di kertaz teruz di gulung dan dimasukkan kantong ato kaos kakilah, ada yang nulis di kartu ulangan bahkan da yang sampe sms-an. Wah bahaya bangetz tuh. Jadi intinya nyontek tuh kudu kudu ditinggalkan baik kepepet atow emank dasarnya gak mau belajar karena males!! Be your self, Yakinlah bahwa Allah akan memberikan yang terbaik buat hambanya. Biar pun kita semua nyontek tapi kalo Allah sudah mengQadha nilai kita jelek pasti nilai kita jelek, sebaliknya kalo kita semua dah usaha yang bener serta bertawakal dan Allah megQadha nilai kita bagus maka pasti kita nilai kita akan bener – bener bagus. Gak hanya di dunia tapi diakhirat juga. Sapa sih yang gak mau? Hanya orang gila yang gak mau, namanya orang gila mana bisa berpikir secara waras. Tapi jikalau memang Allah mengQadha mu dengan nilai yang jelek, janganlah berputus asa, bisa jadi Allah netapin begitu karena jikalau nilai kita bagus kita bisa menjadi sombong sehingga usaha yag udah dinilai pahala jadi sia-sia. Allah kan Maha tau segalanya lagi Maha Penyayang, yakinlah kalo itu yang terbaik bagimu (loh kok kayak judul lagu sih!!!) dan jangan lupa ambil hikmahnya, pengalaman merupakan guru bagi kita. Tenang kalo kita sabar dan terus berusaha kita bakalan dapat nilai plus di mata Allah. Don’t Cry, you’ill better next time.

Balik lagi ke fakta remaja yang udah terserang virus nyontek. Sebut saja Budi yang merupakan salah seorang pelajar SMA dan kebetulan sekali ia seorang aktivis dakwah di sekolah. Kejadiannya begini, saati itu lagi ulangan dan ia kepregok nyontek truz gimana reaksinya? Cuma cengengesan doank plus gak merasa bersalah. Pantes gak sich? Bukan ngomong pantes gak pantes, sekarang permasalahannya bagaimana seorang pendakwah itu memberikan contoh yang baik bagi teman – temannya. Sampai kapan kita mau seperti ini? Mana pejuang – pejuang dakwah islam yang solid yang katanya selalu berada dalam ikatan ukhuwah islamiyah. Jangan katanya kerjasama dengan nyontek waktu ulangan truz di bilang buat mempererat ukhuwah islamiyah. Itu mah mempererat ukhuwah jahiliyah yang jelas – jelas ngajakin kita kita ke neraka. Mana ada sich saudara sesama muslim yang berbondong – bondong menjerumuskan saudara muslim lainnya ke jurang kesesatan. Nyontek adalah dasar dari korupsi. Apakah masih mau negeri ni tambah hancur karena ditempati generasi – generasi yang bobrok nilai aqidah dan akhlak.

Ingatlah Allah itu maha mengetahui apa yang tersembunyi atau tiada tesembunyi dari manusia. Apakah ketika nyontek kita tidak sadar bahwa Allah melihat kita. Ato! Kita pura – pura gak tau kalo Allah maha melihat dan kita masa bodoh saja. Maka hati – hati lah jika kita berpikir seperti ini, karena kita termasuk golongan yang sesat karena kesombongannya dan siksa api neraka yang merajam – rajam diri kita. Naudzubillahhimin dzalik.

So, You must remember, Hidup ini indah saat kita mentaati yang Maha Indah.. “Buat apa nyontek kalo Cuma dapet nilai sembilan mendingan gak nyontek meski dapet nilai sepuluh” (He..99x)

JOMBLO vs PACARAN

Edisi 13 tahun II

23 Februari 2007 / 05 Safar 1428 H


Jomblo. Satu kosakata yang sangat di takuti oleh banyak orang saat ini terutama remaja. Why? Karena kosakata ini mengandung makna negatif yang bikin alergi. Suatu pertanda tidak lakunya seseorang untuk mendapatkan teman dekat dari lawan jenis.(Nggak laku? Emanknya jualan singkong?).

Tapi asli kok, banyak bangetz remaja apalagi kalangan cewek yang merasa seperti kena kutukan kalo sampe predikat jomlo mereka sandang. Akhirnya dengan berbagai cara mereka berusaha untuk melepaskan kutukan itu meskipun dengan berbagai cara. Pada tau film 30 Hari Mencari Cinta gak? Di film itu kan menceritakan tiga orang remaja cewek yang sama – sama berada pada kondisi jomblo. Mereka membuat kesepakatan untuk mencari pacar dalam waktu 30 hari. Bagi yang menang, maka ia akan menjadi raja dan diperlakukan bak putri karena semua pekerjaan rumah akan dikerjakan oleh yang kalah.

So, Ternyata predikat jomblo begitu menakutkan bagi sebagian remaja yang miskin iman. Mereka lebih memilih jalan maksiat dengan pacaran daripada menyandang status ini. Meskipun seringkali dalam pacaran mereka terpaksa, bisa karena dipaksa teman, bisa juga dipaksa diri sendiri karena konsep diri yang salah.

Belum lagi dorongan media, baik cetak maupun elektronik yang menawarkan gaya hidup bebas dengan label pacaran yang semakin gencar di lakukan. Padahal apa sih yang bisa didapaetin dari pacaran?

Kenapa harus pacaran?

Hayo pada bisa gak ngejawab pertanyaan ini? Hmm… mungkin sebagian sobat ada yang menjawab: ‘biar gak kuper’,’biar nggak dibilang gak laku?’,’biar ada semangat belajar’ dll. Masih banyak alasan yang bisa diajukan unuk pembenaran.

Secara garis besar pacaran adalah aktivitas yang dilakukan berdua (berkhalwat) sebelum menikah. Aktivitas ataw kegiatan ini bisa bermacan-macam bentuknya. Bisa nonton bareng, jalan berdua dll. (pokoknya yang dilakukan berdua lah.).

Kalo kamu sekedar tajut dibilang kuper karena nggak mau pacaran, maka mereka para aktivis pacran itulah yang sebenarnya kuper, dan ndeso’ bin katro’ sedunia. Why? Karena orang pacarn tiu dunianya akan berkutatt dari pengetahuan tentang doi aja. Coba kita semua tanyain tentang perkembangan berita terkini !!! mungkin salah satu contohnya, Apakah ia tahu di Palestina sedang terjadi masalah apa? Mungkin sebagian besar dari aktivis pacaran tersebut pada bengong semua menanti ilham jawaban yang tak akan pernah datang untuk pertanyaan yang kita berikan.

Yakin deh, pasti mereka yang pacaran itu nggak bakalan tau topik yang beginian. Kalo begitu mereka lah yang ndeso bin katro. Paling tahunya cuman apa hobi sang pacar, apa warna favoritnya, dll. Coba tanya berapa nilai ulangan matematikanya?, fasih gak bahasa Inggrisnya? Pasti deh aktivis pacaran pada njelimet otaknya klo untuk hal beginian. Kalopun ada yang pintar, itu sama sekali nggak ada hubungannya dengan pacaran sbagai semangat belajar. Sebaliknya, pacaran adalah ajang kemaksiatan.

Jomblo adalah pilihan

Kok bisa? Ya bisa dunkz. Why not gitu loh? Kondisi jomblo adalah kondisi independen yang mandiri. Di saat teman – teman tidak bisa hidup tanpa gebetan ( Ceilee… ngeri amat yee. Khan yang bener kita tidak bisa hidup tanpa udara, air dan makanan. Bener gak? ) tapi kita harus merasa sebaliknya, jangan ampe kita manja, menjadi tergantung dan merasa lemah bila ndak ada do’i. (Capee… deh ). Meskipun ada teman yang memilih pacaran sebagai jalan hidup, kita kudu tetep kuekueh terhadap pendirian kita. “Jomblo is my Choice”. (Salah kata ya… maafin yee khan baru sama – sama belajar).

Jangan pariah takut diolok teman sebagai jomblo. Jangan pariah malu untuk disebut nggak laku. Toh mereka yang berpacaran saat ini belum tenu juga jadi nikah nantinya. Betul tidak? Malah banyak yang putus di tengah jalan, patah hati truz bunuh diri. Hii, naudzubillah, ataw bisa jadi karena takut dibilang jomblo mlah bisa dapetin gelar MBA bagi ceweknya tanpa harus kuliah alias Married By Accident.

Intinya predikat jomblo jauh lebih baik daripada pacaran karena takut dosa dan menjadi jomblo jauh lebih bermartabat apabila diniatkan menjauhi maksiat. Menjadi jomblo sama dengan shaleh dan sholihah kalo iu diniatkan karena Allah semata. Bukankah hidup ini Cuma sementara aja tuh? Jadi rugi bangetz kalo hidup yang sekali ini nggak kita bikin berarti. So, apabila ada yang rese dengan status jomblo kita, katakan aja “Jomblo, So What Geto Loh”. (Bi2et S)

DUNIA INI FANA BRO !!!

Edisi 13 tahun 2
09 Maret 2007 / 19 Shafar 1428 H

Memang benar bahwa kehidupan kita fana, dunia ini juga fana, tapi yang harus menjadi perhatian kita dan kekhawatiran kita adalah: dengan cara apa kita meninggalkan dunia ini? Pada saat seperti apa kita wafat? Dan, bekal pa yang kita bawa untuk dibawa menghadap Allah SWT? Amal baikkah or justru malah amal buruk?

Sobat Ghur, kita berasal dari Allah SWT, dan akan kembali kepadaNya pada waktu yang telah ditentukan. Nah, selama di dunia ini kita juga diminta untuk beribadah kepada Allah SWT. Melaksanakan semua perintahNya dan gak melakukan segala hal yang dilarang Allah SWT.Ini memang sederhana secara teori,tapi jarang yang sukses dalam prakteknya.Semoga kita sih masuk ke dalam golongan orang-orang yang beriman kepada Allah SWT, dan beramal sholeh untuk bekal kehidupan setelah dunia ini. Amiiin.

Cinta dunia?Sewajarnya aja

Mencintai dunia boleh saja,sebab dunia adalah tempat tinggal kita saat ini yang dipenuhi dengan segala gemerlap dan keindahaan yang membuat kita terpesona. Tapi janngan khawatir, kita boleh kok menikmatinya. Allah SWT berfirman

“Dan carilah apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu(kebahagiaan)negeri akhirat,dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari(kenikmatan) duniawi . . .(Q.S al-Qashash[28]:77)

Benar, dunia begitu indah gemerlapnya, tapi tak semua yang ditawarkan itu baik,bahkan mungkin adalah jebakan untuk tergoda mencicipi kemaksiatan yang dikemas dengan manis dan menarik.Miras,perzinahan,perjudian,dsb. Menurut hawa nafsu manusia memang menyenangkan.Tapi, karena semua itu dilarang oleh Allah SWT, maka hanya akan menuai siksa dan dosa jika dilakukan. Jika tak bertobat, tentunya nerakalah tempat kembalinya. Naudzubillahi min dzalik.

Memang, islam gak melarang kita menikmati segala macam perhiasan dan pernak - pernik yang ditawarkan dunia, tapi sewajarnya saja kita meraihnya. Jangan sampai kita tertipu dan gelap mata mencintainya untuk terus mengejarnya bak bayangan tak bertepi ato terus dicari seolah tiada bosannya dan tiada akhirnya.Semoga tidak demikian yang kita lakukan. Amieen…

Jangan takut mati

Sobat semua yang pada ngefans sama grup band Ungu, pasti hapal deh lagu “Andai Kutahu” yang sebagian liriknya berbunyi: “Andai Kutahu, kapan tiba ajalku.Kuakan memohon :Tuhan tolong panjangkan umurku. Andai Kutahu, kapan tiba masaku, kuakan memohon: Tuhan jangan Kau ambil nyawaku.Aku takut,akan semua dosa-dosaku.aku takut dosa yang terus membayangiku. . . .”

Hmm….., sayangnya ‘permintaan’ Ungu dari sebagian lirik diatas gak bisa dikabulkan. Sebab, Malaikat Jibril tuh klo mo datang nyabut nyawa kita gak pake ngasih kabar dulu, bahkan tuk sekedar ‘missed call’ sekalipun.Klo ajal kita udah tiba, ya langsung diambil, gitu loch. Gak bisa ditangguhkan.

Sobat Ghur, sebaiknya kita jangan takut menghadapi kematian.Tapi bukan berarti kita lantas menikmati dunia sebebasnya yang kita inginkan seolah gak akan ada kematian.Justru sebaliknya, “jangan takut menghadapi kematian” diartikan bahwa hal itu pasti terjadi.Biasa aja gitu lho.Bahkan dunia ini juga akan berakhir. Itu sebabnya yang diperlukan adalah persiapan. So, tugas kita hanyalah berusaha sebaik dan sebanyak mungkin untuk mengumpulkan pahala.

Boys n galz, orang yang baik pasti akan mati,begitu pula dengan orang yang bermaksiat pasti akan mati juga.Termasuk orang yang giat berdakwah dan berjuang untuk Islam juga akan mati,dan tentu orang yang diam sambil bengong juga bakalan mati.Bedanya adalah nilai dan amal yang dibawanya untuk menghadap Allah SWT.Betul ndak?

Ayo berjuang,seperti pesan Shoutul Harokah dalam bait syair dibawah ini: “Mengarungi samudera kehidupan, kita ibarat pengembara.Hidup ini adalah perjuangan,tiada masa tuk berpangku tangan.Setiap tetes peluh dan darah tuk akan sirna ditelan masa. Segores luka dijalan Allah,kan menjadi saksi pengorbanan . . . .”.Kita bisa kok,sobat! Semangat !!!