Minggu, 07 Oktober 2007

ASSALAMU'ALAIKUM WA RAHMATULLAHI WA BARAKATUH

Edisi 2 tahun 3
19 Rajab 1428 H / 3 Agustus 2007 M

Ya, tentu saja kita semua tau… judul diatas merupakan sesuatu amalan yang ringan untuk diucapkan oleh siapa saja dan juga mempunyai fadillah yang amat besar.(Betul gak?) Hmm… tapi apakah kita semua sudah sering mengamalkannya serta menyerapi apa makna dari kalimat yang sangat indah ini bila ? (Udah belom??)

Dari Abdullah bin Amr bin Ash, bahwasanya ada seorang yang bertanya kepada Rasulullah Saw: Bagaimanakah Islam yang baik itu?" Beliau menjawab, "Yaitu mau memberi makanan dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan kepada orang yang belum kamu kenal." (HR. Bukhari Muslim).

Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh. Salam itu tak lagi terdengar sumbang di telinga, karena ia nyaris sudah menjadi budaya. Kini nyaris semua orang menjadikannya sebagai salam pembuka, pengawali teks pidato, memulai ceramah, mengantarkan pembicaraan dan sapaan kesopanan. Hingga ia pun terdengar sama, seperti halnya selamat pagi, punten, permisi kulonuwun....

Namun mungkin tak banyak yang masih mengingat, Sang Kekasih Allah telah bersabda, bahwa ucapan itu menjadi salah satu parameter kebaikan seorang muslim, sebagaimana diriwayatkan Bukhari dan Muslim di atas; Berislamlah dengan baik dengan mengucap salam kepada yang engkau kenal dan tidak engkau kenal...

Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh. Ucapan ini sudah sedemikian akrab di lidah ummat muslim. Tiada kaku orang mengucapkannya. Baik yang memang setiap hari menyebutnya minimal lima kali sehari di akhir shalat, maupun mereka yang hanya membasahi lidah dengan salam di acara-acara resmi.

Tapi sudahkah ia menjadi menjadi sarana pengikat cinta…??? (Mmm… sudah belum ya? hayo ngaku. He…3x). Sebagaimana kabar yang disampaikan Abu Hurairah ra? Ia berkata: Rasulullah Saw bersabda, "... Maukah kamu sekalian aku tunjukkan sesuatu yang apabila kamu mengerjakannya maka kamu sekalian akan saling mencintai? Yaitu sebarkanlah salam diantara kamu sekalian". (HR Muslim).

Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh. Sobat muslim semua, sungguh kalimat ini amat mudah diucapkan. Hingga terkadang banyak diantara kita yang meremehkan. Bahkan ada pula yang hendak menggantikan kalimat yang indah ini dengan ucapan selamat pagi, atau sapaan lokal dan teritorial lainnya. Tidakkah kita semua teringat kata seorang sahabat, Abu Yusuf (Abdullah) bin Salam ra: Saya mendengar Nabi 'alaihissalaam bersabda: "Hai sekalian manusia, sebarluaskanlah salam, berikanlah makanan, hubungkanlah tali peraudaraan, dan shalatlah pada waktu manusia sedang tidur, niscaya kamu sekalian akan masuk surga dengan selamat." (HR Turmudzi). Duhai, alangkah nikmatnya! Ternyata tiket surga tidak mahal. 'Cukup' dengan menyebarkan salam.

Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakatuh. Sobat, betapa cintanya Rasulullah SAW dengan untaian kata ini. Hingga tak lepas lisannya dari salam di setiap waktu dan kesempatan. Saat mendatangi suatu kaum, Rasulullah mengucapkan salam ini dengan diulang tiga kali. Saat Beliau melewati sekumpulan kaum wanita, saat bertemu dengan sekelompok anak-anak, saat bertamu atau memasuki rumahnya sendiri, doa rahmah itu mengalun indah dari bibirnya. Bahkan saat di dalam majelis, beliau tak bosan membalas salam sahabatnya yang hadir satu persatu, pun ketika mereka satu demi satu kemudian meninggalkan majelis dan kembali mengucap salam.(Subhanallah!).Bahkan beliau pernah bersabda: "Apabila salah seorang diantara kalian bertemu dengan saudaranya, maka hendaklah ia mengucap salam kepadanya. Dan seandainya diantara keduanya terpisah oleh pohon, dinding atau batu, kemudian bertemu kembali, maka hendaklah ia mengucapkan salam lagi". (HR Abu Dawud).

Maka sungguh sangat indah, jikalah salam itu disebarkan oleh wajah penuh senyuman, dihayati dan diresapi sebagaimana Abbas Assisi menyampaikan dalam surat-surat kepada sahabat-sahabatnya: Salaam Allah 'alaika wa rahmatuhu wa barakaatuh. Sungguh damai dan nyaman, jika salam kita sampaikan sebagai ta'abbudan (ibadah) dan mahabbah (kecintaan), bukan sekedar kebiasaan. Salaam Allah yaa Ikhwatii, ya khalilii, wa rahmatuhu wa barakatuh. (Semoga Allah memberikan kedamaian, kasih mesra dan barakahNya untukmu saudaraku, sahabatku). Doa tulus ini kupersembahkan untukmu .Wassalamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh.

PERUBAHAN DI TANGANMU WAHAI PEMUDA

Edisi 1 tahun 3

Pada suatu hari seorang petani menemukan sebutir telur angsa di halaman rumahnya dan memasukkan telur tersebut ke dalam kandang ayam di antara telur-telur ayam yang sedang dierami. Beberapa minggu kemudian telur angsa itu menetas dan karena berada di lingkungan ayam, sang anak angsapun berperilaku seperti ayam. Anak angsa tersebut makan seperti ayam, berkokok seperti ayam dan berkumpul di tengah-tengah para ayam.

Ketika sedang bermain-main di tengah hutan, tak jarang sang anak angsa memandang iri kepada kerumunan para angsa yang sedang berenang di tengah danau dan berharap di dalam hati seandainya saja ia mampu berenang dan menikmati indahnya danau seperti para angsa tersebut.

Hingga suatu hari, para pemburu liar yang mengejar mangsa buruannya ke tengah hutan melepaskan tembakan dan membuat panik para warga hutan. Sang anak angsa berlari dengan kencang hingga ia terhenti di tepi danau dan dengan kesedihan yang mendalam hanya mampu menyaksikan gerombolan para angsa berenang menyeberangi danau untuk menyelamatkan diri. Ia menyesal terlahir sebagai seekor ayam yang tidak mampu berenang. Di tengah-tengah kepanikan, kesedihan serta ketidakberdayaannya, sebutir peluru pemburu bersarang di tubuh sang anak angsa tersebut. Anak angsa itupun mati tanpa pernah mengetahui bahwa ia seekor angsa dan bahwa ia sebenarnya mampu survive dari kejaran pemburu tersebut.

Nah sobat… Ilustrasi di atas adalah gambaran umum dari kondisi para pemuda, khususnya para pemuda Islam, sekarang ini. Banyak di antara kita yang merasa cukup puas dengan apa yang telah kita raih, tanpa menyadari bahwa sebenarnya dengan potensi yang kita miliki dan dengan izin Allah s.w.t kita mampu untuk menjadi sesuatu yang lebih dahsyat. (Wow). Hmm… atau bahkan tidak sedikit pula diantara kita yang tidak pernah mengetahui potensi diri kita sesungguhnya, karena kita sudah merasa nyaman dengan tidak menjadi apa-apa. Kita hanya mampu memandang takjub dengan kegemilangan orang lain, tanpa pernah menyadari bahwa mungkin kita memiliki potensi yang sama atau bahkan lebih dari orang tersebut

Sobat, perubahan bukanlah sesuatu yang datang dari luar. Perubahan itu adalah suatu bagian integral dari eksistansi manusia dan hanya dapat dicapai dengan arah dari dalam ke luar. Perubahan itu ada di tangan kita sendiri. Allah s.w.t berfirman, bahwa Ia tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai kaum tersebut mengubah nasibnya sendiri.Sobat, dari firman Allah diatas dapat kita ketahui bahwa kitalah yang sebenernya pengemudi kendaraan perubahan itu dengan Allah swt sebagai penunjuk arahnya.

Stephen R. Covey, dalam bukunya yang terkenal 7 Habits of Highly Effective People, mengemukakan tentang konsep lingkaran pengaruh. Coba dech sobat semua bayangin dua buah lingkaran. Yang pertama lingkaran dalam yang meliputi segala sesuatu yang dapat kita kendalikan seperti diri sendiri, sikap kita, respon kita dan pilihan kita. Lalu yang kedua lingkaran luar yang mencakup segala hal yang berada di luar pengaruh kita

Memang, ada hal-hal di dunia ini yang tidak dapat kita kendalikan karena berada di lingkaran luar dari pengaruh kita. Kita tidak dapat menentukan jenis kelamin kita, orang tua yang melahirkan kita, waktu kematian kita, lingkungan tempat kita dibesarkan, cara kita dididik oleh orangtua kita dan sebagainya Tapi kita senantiasa dapat mengoptimalkan pengaruh dari lingkaran dalam yang mampu kita kendalikan. Kita dapat memilih respon, tindakan serta sikap kita dalam menghadapi hal-hal yang berada di luar pengaruh kita. Respon kita terhadap hal-hal tersebutlah yang akan menentukan nasib kita. Hal-hal yang berada di luar pengaruh kita tersebut hanya akan mampu mempengaruhi kita tapi tidak dapat menentukan nasib kita! Betul tidak…?

Nah kesadaran akan hal tersebut lah yang akhirnya nanti akan mampu mengubah paradigma kita dalam memperkokoh izzah Islam yang sebagian besar ditopangkan di pundak kita sebagai seorang pemuda. Kesadaran akan hal tersebut juga akan mampu menghancurkan tembok-tembok di sekitar kita yang menghalangi kita dalam menemukan potensi diri kita menjadi seseorang yang lebih baik dan membawa kemaslahatan bagi ummat.

Keterbatasan-keterbatasan yang kita miliki bukanlah suatu alasan untuk menghindari tanggung jawab moral kita sebagai seorang pemuda yang menjadi tumpuan harapan ummat. Tirulah semangat Beethoven, yang walaupun dengan keterbatasannya sebagai seorang tuna rungu pada akhir-akhir hayatnya, ia malah mampu menciptakan melodi-melodi indah yang dianggap sebagai sebuah karya jenius oleh para musisi. Dan teladanilah Rasulullah saw, yang dengan segala keterbatasannya sebagai seorang manusia biasa, walaupun ia diberi beberapa keistimewaan oleh Allah s.w.t., ia mampu mengubah kejahiliyahan menjadi suatau kecemerlangan. Ia mampu menjadikan segala sesuatau yang tidak mungkin dalam logika manusia normal menjadi mungkin dan ia juga mampu menjadi penerang bagi ummat hingga kini, bahkan tanpa kehadiran jasadnya sekalipun ia tetap hidup di hati ummatnya.Subhanallah…

Nah sobat muslim semua, mulailah menjadi bagian dari perubahan itu sekarang juga dengan berusaha mengenali dan menggali potensi yang kita miliki. Bukankah tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai suatu perubahan ke arah yang lebih baik. Dengan menjadikan Allah s.w.t. sebagai satu-satunya ghayyah. Bukan tidak mungkin alur cerita diatas akan berubah di mana sang anak angsa akhirnya menyadari bahwa ia adalah seekor angsa dan mulai membentangkan sayapnya, berenang melintasi danau sehingga ia terhindar dari tembakan sang pemburu.

MEMBANGUN MASA DEPAN

Edisi 17 tahun 2
11 Meil 2007 / 23 Rabiul Akhir 1428 H

Kita sepakat bahwa orang yang paling rugi di dunia ini adalah orang yang diberikan modal, tapi ia hamburkan modal itu sia-sia. Iya gak…? dan modal kita dalam hidup ini adalah waktu.

Sering kita tidak menyadari betapa berharganya jatah waktu yang kita miliki. Kita sering menghabiskan waktu produktif hanya untuk mencari pensil. Kita sering menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mengumbar ketidaksukaan kita, untuk memendam kedengkian atau kemarahan kita. Padahal, waktu berlanjut terus dan kita tidak tahu kapan hidup ini berakhir.

Oleh karena itu, Mahasuci Allah yang Mengungkapkan dalam QS. Al-'Ashr bahwa kerugian manusia itu dapat diukur dari sikapnya terhadap waktu. Kalau ia sudah berani menghamburkan waktunya, maka ia tergolong orang yang sudah menyia-nyiakan kehidupannya.

Penggolongan Waktu

Pertama, masa lalu. Meskipun sudah lewat tapi banyak orang sengsara hari ini gara-gara masa lalunya yang buruk banget. Karena itu, kita harus selalu waspada jangan sampai masa lalu merusak hari kita.

Kedua, masa depan. Kita pun sering panik menghadapi masa depan. Pekerjaan semakin sulit didapat, takut tidak mendapat jodoh, dan lainnya. Masa lalu dan masa depan kuncinya adalah hari ini. Dan inilah bentuk waktu yang ketiga itu. Seburuk apapun kita di masa lalu, kalau hari ini kita benar-benar bertaubat dan memperbaiki diri, insya Allah semua keburukan itu akan terhapuskan.

Maka sehebat apapun cita-cita di masa depan, taruhannya adalah masa kini. Pada saat sekarang kita duduk santai, tidak mau bekerja, dan pada saat yang sama orang lain bekerja keras, menempa diri, menimba ilmu, mengasah diri, dan memperkuat ibadahnya. Maka, suatu saat nanti akan bertemu rezeki yang harus diperebutkan oleh dua orang. Yang satu dengan ilmu dan wawasan. Dan yang satu lagi dengan kebodohan. (Hayo, kira – kira siapa yang bakal ngedapetin rezeki itu?)

Sobat, kita harus mulai menghitung apapun yang kita lakukan. Ucapan kita sekarang adalah bekal kita. Kita bisa jatuh besok lusa hanya dengan satu patah kata. Kita pun bisa menuai kemuliaan dengan kata-kata..

Karena itu, terlalu bodoh andai kita mau melakukan sesuatu yang sia-sia. Detik demi detik harus kita tanam sebaik mungkin, karena inilah bibit yang buahnya akan kita petik di masa depan. Kalau kita terbiasa berhati-hati dalam berbicara, dalam bersikap, dalam mengambil keputusan, dalam menjaga pikiran, dalam menjaga hati, maka kapan pun malaikat maut menjemput, kita akan selalu siap.

Ada tiga hal yang dapat kita lakukan agar masa depan kita cerah. Pertama, pastikanlah hari-hari yang kita jalani menjadi sarana penambah keyakinan pada Allah. Kita tidak akan pernah tenteram dalam hidup kecuali dengan keyakinan yang kuat pada Allah SWT. Pupuk dari keyakinan adalah ilmu. Orang-orang yang tidak suka menuntut ilmu, maka imannya tidak akan bertambah. Bila iman tidak bertambah, maka hidup pun akan mudah goyah.

Kedua, tiada hari berlalu kecuali jadi amal. Nah… Di mana pun kita berada lakukankanlah yang terbaik. Segala sesuatu harus menjadi amal. Dilihat atau tidak, kita tancaap terus. Karena rezeki kita adalah apa-apa yang bisa kita lakukan. Ketiga, orang yang beruntung adalah orang yang setiap hari terus melatih diri untuk menjadi pemberi nasihat dalam kebenaran dan kesabaran, dan yang setiap harinya melatih diri untuk menerima nasihat dalam kebenaran dan kesabaran.

JADILAH DIRI SENDIRI

Edisi 16 tahun 2
20 April 2007 / 02 Rabiul Akhir 1428 H

Sobat… Sesungguhnya salah satu pintu masuk menuju kebahagiaan adalah, ketika kita menjadi diri kita sendiri. Keyakinan kita dengan potensi, bakat, kekuatan dan karakteristik yang ada pada diri kita, membuat kita merasakan keistimewaan dan keunikan yang kita miliki. Janganlah ragu wahai sahabat, bila kita sudah menemukan bakat kita, sekalipun menurut orang lain adalah sesuatu yang “remeh”. Ketika kita menjadi diri kita sendiri, maka kita akan menjadi orang yang paling bahagia di dunia

Jika sobat berkumpul dengan orang-orang yang pintar pada satu bidang, yang mana bidang itu bukan keahlian sobat, maka jangan sobat katakan pada mereka bahwa keahlian yang mereka miliki juga sobat miliki. Keinginan sobat hidup dibawah bayang-bayang mereka justru akan melemahkan kedudukan sobat. Mengapa? Karena hal itu jelas akan menghilangkan kelebihan yang ada dalam diri sobat. sobat hanya berkutat pada kekurangan yang ada pada diri sobat sendiri. Dan jelas pada akhirnya akan melemahkan sobat, membuat tidak bisa melangkah lebih jauh, dunia ini terasa sangat sempit. Jack Trout dalam bukunya yang cukup mencerahkan, Differentiatie or Die, berkata tentang hal ini: “Jika Anda mengabaikan keunikan Anda dan mencoba untuk memenuhi kebutuhan semua orang, Anda langsung melemahkan apa yang membuat Anda ‘berbeda’.”

Wahai sobat Ghur semua… Tidak ingin menjadi diri kita sendiri disebabkan oleh keinginan kita untuk mendapatkan pujian manusia. Kita ingin menjadi populer di mata masyarakat. Sebuah hasil penelitian psikologi menyebutkan: orang-orang yang ingin menjadi populer seringkali tidak jujur. “Dan mereka sendiri senang dipuji dengan amal yang mereka sendiri tidak mengerjakannya.” (QS. 3: 188).

Membuat diri terkenal, itu bukan tujuan hidup kita. Kita hanya disuruh berbuat sebaik mungkin. Jika niat kita sudah salah, maka hasilnya pun akan tidak maksimal. Jika niat kita ingin terkenal tidak segera terwujud, kita hanya bisa larut dalam kesedihan karena tujuan hidup kita sudah terkandaskan. Sedangkan tujuan itu sendiri adalah final kehidupan. Tidak ada lagi kehidupan sesudah gagal mencapai titik final. Berbeda dengan orang yang menyesuaikan tujuan hidupnya hanya untuk beribadah kepada Allah; kegagalan dalam menghadapi sebuah episode kehidupan dunia ini bukan berarti kegagalan segala-galanya. “Jangan berambisi mencari popularitas, karena tabiat tersebut adalah indikasi dari kekeruhan jiwa, kegelisahan, dan keresahan.” (Dr. Aidh Al Qarni)

Seburuk apapun karya kita dan sekecil apa pun prestasi kita, hargailah itu! Semua itu kita peroleh dari hasil kerja keras kita, hasil kejeniusan otak kita, dan hasil kreativitas kita.

Sebuah kisah menyebutkan, seorang muslim yang fakir bernama Julaibib gugur dalam sebuah pertempuran melawan pasukan kafirin. Lantas Rasulullah SAW pun memeriksa orang-orang yang gugur dan para sahabat memberitahukan kepada beliau nama-nama mereka. Akan tetapi, mereka lupa kepada Julaibib hingga namanya tidak disebutkan, karena Julaibib bukan seorang yang terpandang dan bukan pula orang yang terkenal. Sebaliknya, Rasulullah ingat Julaibib dan tidak melupakannya; namanya masih tetap diingat oleh beliau di antara nama-nama lainnya yang disebut-sebut. Beliau sama sekali tidak lupa kepadanya, lalu beliau bersabda: “tetapi aku merasa kehilangan Julaibib!” Akhirnya, beliau menemukan jenazahnya dalam keadaan tertutup pasir, lalu beliau membersihkan pasir dari wajahnya seraya bersabda sambil meneteskan airmata: “Ternyata engkau telah membunuh tujuh orang musuh, kemudian engkau sendiri terbunuh. Engkau termasuk golonganku dan aku termasuk golonganmu; Engkau termasuk golonganku dan aku termasuk golonganmu; Engkau termasuk golonganku dan aku termasuk golonganmu.” Cukuplah bagi Julaibib dengan medali nabawi ini sebagai hadiah, kehormatan, dan anugerah.

Wahai sobat Ghur semua… Seperti Julaibib, tidak ingin menjadi orang terkenal dan terpandang. Seperti Julaibib, hidup menjadi dirinya sendiri. Seperti Julaibib, mengakhiri hidupnya dengan penuh kedamaian dan kebahagiaan. Tidakkah kita ingin mendapatkan apa yang telah didapatkan Julaibib?

KENAPA HARUS NYONTEK

Edisi 15 tahun 2

07 April 2007 / 19 Rabiul Awal 1428 H


Nyontek. Singkat,padat dan jelas, kan? Truz apalah artinya nyontek? Apakah bisa ngebikin hidup kita terasa beda. Tau gak sich kalo nyontek ini udah banyak digandrungi pelajar seperti sebuah ‘trendsetter’ . Sebuah kegiatan tanpa biaya banyak, truz gak pake ngajukan proposal bikin kita enjoy dan ketagihan kayak nyabu. (Cape deh !!).

Contohnya gak jauh – jauh amat kok. Waktu mid semester kemarin aja siapa sich yang gak nyontek? Hmm… ghur percaya koq sama sobat muslim semua pasti gak ada yang nyontek. Amieen…

Sobat, kita sebagai makhluk Allah sudah seharusnya ngikutin aturan yang udah ditetapkan Allah, jadi kita gak bisa seenaknya bikin peraturan sendiriyang udah jelas ngelanggar aturan-Nya.Ya… kaya nyontek gitulah. Emang sih ada yang bilang kalo nyontek itu usaha, istilahnya ikhitar gitu deh (arab-arab dikit gak papa kan?). Tapi ikhtiar yang gimana? Syar’i gak? Jangan mentang-mentang denger kata ikhtiar truz berarti bener. Kan ada istilah arabnya tuh! Berarti dalam islam dibolehkan. Eits… Jangan salah gak semua yang lo denger itu bener. Kok bisa? Ya iyalah. Coba deh sobat semua pikir. Ada gak sih nyontek yang islami?

Mmm… sekarang kita flashback aja. Sebenernya kalian nyontek tuh karena apa sih (jangan bilang ya karena Allah). Kepepet ato emang bener gak belajar ato dari kamunya sendiri yang males buat belajar. Buktinya aja pas ulangan dah nyiapin Note small ato istillah gaulnya Cerpe-an. Ada yang ditulis di meja. Di kertaz teruz di gulung dan dimasukkan kantong ato kaos kakilah, ada yang nulis di kartu ulangan bahkan da yang sampe sms-an. Wah bahaya bangetz tuh. Jadi intinya nyontek tuh kudu kudu ditinggalkan baik kepepet atow emank dasarnya gak mau belajar karena males!! Be your self, Yakinlah bahwa Allah akan memberikan yang terbaik buat hambanya. Biar pun kita semua nyontek tapi kalo Allah sudah mengQadha nilai kita jelek pasti nilai kita jelek, sebaliknya kalo kita semua dah usaha yang bener serta bertawakal dan Allah megQadha nilai kita bagus maka pasti kita nilai kita akan bener – bener bagus. Gak hanya di dunia tapi diakhirat juga. Sapa sih yang gak mau? Hanya orang gila yang gak mau, namanya orang gila mana bisa berpikir secara waras. Tapi jikalau memang Allah mengQadha mu dengan nilai yang jelek, janganlah berputus asa, bisa jadi Allah netapin begitu karena jikalau nilai kita bagus kita bisa menjadi sombong sehingga usaha yag udah dinilai pahala jadi sia-sia. Allah kan Maha tau segalanya lagi Maha Penyayang, yakinlah kalo itu yang terbaik bagimu (loh kok kayak judul lagu sih!!!) dan jangan lupa ambil hikmahnya, pengalaman merupakan guru bagi kita. Tenang kalo kita sabar dan terus berusaha kita bakalan dapat nilai plus di mata Allah. Don’t Cry, you’ill better next time.

Balik lagi ke fakta remaja yang udah terserang virus nyontek. Sebut saja Budi yang merupakan salah seorang pelajar SMA dan kebetulan sekali ia seorang aktivis dakwah di sekolah. Kejadiannya begini, saati itu lagi ulangan dan ia kepregok nyontek truz gimana reaksinya? Cuma cengengesan doank plus gak merasa bersalah. Pantes gak sich? Bukan ngomong pantes gak pantes, sekarang permasalahannya bagaimana seorang pendakwah itu memberikan contoh yang baik bagi teman – temannya. Sampai kapan kita mau seperti ini? Mana pejuang – pejuang dakwah islam yang solid yang katanya selalu berada dalam ikatan ukhuwah islamiyah. Jangan katanya kerjasama dengan nyontek waktu ulangan truz di bilang buat mempererat ukhuwah islamiyah. Itu mah mempererat ukhuwah jahiliyah yang jelas – jelas ngajakin kita kita ke neraka. Mana ada sich saudara sesama muslim yang berbondong – bondong menjerumuskan saudara muslim lainnya ke jurang kesesatan. Nyontek adalah dasar dari korupsi. Apakah masih mau negeri ni tambah hancur karena ditempati generasi – generasi yang bobrok nilai aqidah dan akhlak.

Ingatlah Allah itu maha mengetahui apa yang tersembunyi atau tiada tesembunyi dari manusia. Apakah ketika nyontek kita tidak sadar bahwa Allah melihat kita. Ato! Kita pura – pura gak tau kalo Allah maha melihat dan kita masa bodoh saja. Maka hati – hati lah jika kita berpikir seperti ini, karena kita termasuk golongan yang sesat karena kesombongannya dan siksa api neraka yang merajam – rajam diri kita. Naudzubillahhimin dzalik.

So, You must remember, Hidup ini indah saat kita mentaati yang Maha Indah.. “Buat apa nyontek kalo Cuma dapet nilai sembilan mendingan gak nyontek meski dapet nilai sepuluh” (He..99x)

JOMBLO vs PACARAN

Edisi 13 tahun II

23 Februari 2007 / 05 Safar 1428 H


Jomblo. Satu kosakata yang sangat di takuti oleh banyak orang saat ini terutama remaja. Why? Karena kosakata ini mengandung makna negatif yang bikin alergi. Suatu pertanda tidak lakunya seseorang untuk mendapatkan teman dekat dari lawan jenis.(Nggak laku? Emanknya jualan singkong?).

Tapi asli kok, banyak bangetz remaja apalagi kalangan cewek yang merasa seperti kena kutukan kalo sampe predikat jomlo mereka sandang. Akhirnya dengan berbagai cara mereka berusaha untuk melepaskan kutukan itu meskipun dengan berbagai cara. Pada tau film 30 Hari Mencari Cinta gak? Di film itu kan menceritakan tiga orang remaja cewek yang sama – sama berada pada kondisi jomblo. Mereka membuat kesepakatan untuk mencari pacar dalam waktu 30 hari. Bagi yang menang, maka ia akan menjadi raja dan diperlakukan bak putri karena semua pekerjaan rumah akan dikerjakan oleh yang kalah.

So, Ternyata predikat jomblo begitu menakutkan bagi sebagian remaja yang miskin iman. Mereka lebih memilih jalan maksiat dengan pacaran daripada menyandang status ini. Meskipun seringkali dalam pacaran mereka terpaksa, bisa karena dipaksa teman, bisa juga dipaksa diri sendiri karena konsep diri yang salah.

Belum lagi dorongan media, baik cetak maupun elektronik yang menawarkan gaya hidup bebas dengan label pacaran yang semakin gencar di lakukan. Padahal apa sih yang bisa didapaetin dari pacaran?

Kenapa harus pacaran?

Hayo pada bisa gak ngejawab pertanyaan ini? Hmm… mungkin sebagian sobat ada yang menjawab: ‘biar gak kuper’,’biar nggak dibilang gak laku?’,’biar ada semangat belajar’ dll. Masih banyak alasan yang bisa diajukan unuk pembenaran.

Secara garis besar pacaran adalah aktivitas yang dilakukan berdua (berkhalwat) sebelum menikah. Aktivitas ataw kegiatan ini bisa bermacan-macam bentuknya. Bisa nonton bareng, jalan berdua dll. (pokoknya yang dilakukan berdua lah.).

Kalo kamu sekedar tajut dibilang kuper karena nggak mau pacaran, maka mereka para aktivis pacran itulah yang sebenarnya kuper, dan ndeso’ bin katro’ sedunia. Why? Karena orang pacarn tiu dunianya akan berkutatt dari pengetahuan tentang doi aja. Coba kita semua tanyain tentang perkembangan berita terkini !!! mungkin salah satu contohnya, Apakah ia tahu di Palestina sedang terjadi masalah apa? Mungkin sebagian besar dari aktivis pacaran tersebut pada bengong semua menanti ilham jawaban yang tak akan pernah datang untuk pertanyaan yang kita berikan.

Yakin deh, pasti mereka yang pacaran itu nggak bakalan tau topik yang beginian. Kalo begitu mereka lah yang ndeso bin katro. Paling tahunya cuman apa hobi sang pacar, apa warna favoritnya, dll. Coba tanya berapa nilai ulangan matematikanya?, fasih gak bahasa Inggrisnya? Pasti deh aktivis pacaran pada njelimet otaknya klo untuk hal beginian. Kalopun ada yang pintar, itu sama sekali nggak ada hubungannya dengan pacaran sbagai semangat belajar. Sebaliknya, pacaran adalah ajang kemaksiatan.

Jomblo adalah pilihan

Kok bisa? Ya bisa dunkz. Why not gitu loh? Kondisi jomblo adalah kondisi independen yang mandiri. Di saat teman – teman tidak bisa hidup tanpa gebetan ( Ceilee… ngeri amat yee. Khan yang bener kita tidak bisa hidup tanpa udara, air dan makanan. Bener gak? ) tapi kita harus merasa sebaliknya, jangan ampe kita manja, menjadi tergantung dan merasa lemah bila ndak ada do’i. (Capee… deh ). Meskipun ada teman yang memilih pacaran sebagai jalan hidup, kita kudu tetep kuekueh terhadap pendirian kita. “Jomblo is my Choice”. (Salah kata ya… maafin yee khan baru sama – sama belajar).

Jangan pariah takut diolok teman sebagai jomblo. Jangan pariah malu untuk disebut nggak laku. Toh mereka yang berpacaran saat ini belum tenu juga jadi nikah nantinya. Betul tidak? Malah banyak yang putus di tengah jalan, patah hati truz bunuh diri. Hii, naudzubillah, ataw bisa jadi karena takut dibilang jomblo mlah bisa dapetin gelar MBA bagi ceweknya tanpa harus kuliah alias Married By Accident.

Intinya predikat jomblo jauh lebih baik daripada pacaran karena takut dosa dan menjadi jomblo jauh lebih bermartabat apabila diniatkan menjauhi maksiat. Menjadi jomblo sama dengan shaleh dan sholihah kalo iu diniatkan karena Allah semata. Bukankah hidup ini Cuma sementara aja tuh? Jadi rugi bangetz kalo hidup yang sekali ini nggak kita bikin berarti. So, apabila ada yang rese dengan status jomblo kita, katakan aja “Jomblo, So What Geto Loh”. (Bi2et S)

DUNIA INI FANA BRO !!!

Edisi 13 tahun 2
09 Maret 2007 / 19 Shafar 1428 H

Memang benar bahwa kehidupan kita fana, dunia ini juga fana, tapi yang harus menjadi perhatian kita dan kekhawatiran kita adalah: dengan cara apa kita meninggalkan dunia ini? Pada saat seperti apa kita wafat? Dan, bekal pa yang kita bawa untuk dibawa menghadap Allah SWT? Amal baikkah or justru malah amal buruk?

Sobat Ghur, kita berasal dari Allah SWT, dan akan kembali kepadaNya pada waktu yang telah ditentukan. Nah, selama di dunia ini kita juga diminta untuk beribadah kepada Allah SWT. Melaksanakan semua perintahNya dan gak melakukan segala hal yang dilarang Allah SWT.Ini memang sederhana secara teori,tapi jarang yang sukses dalam prakteknya.Semoga kita sih masuk ke dalam golongan orang-orang yang beriman kepada Allah SWT, dan beramal sholeh untuk bekal kehidupan setelah dunia ini. Amiiin.

Cinta dunia?Sewajarnya aja

Mencintai dunia boleh saja,sebab dunia adalah tempat tinggal kita saat ini yang dipenuhi dengan segala gemerlap dan keindahaan yang membuat kita terpesona. Tapi janngan khawatir, kita boleh kok menikmatinya. Allah SWT berfirman

“Dan carilah apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu(kebahagiaan)negeri akhirat,dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari(kenikmatan) duniawi . . .(Q.S al-Qashash[28]:77)

Benar, dunia begitu indah gemerlapnya, tapi tak semua yang ditawarkan itu baik,bahkan mungkin adalah jebakan untuk tergoda mencicipi kemaksiatan yang dikemas dengan manis dan menarik.Miras,perzinahan,perjudian,dsb. Menurut hawa nafsu manusia memang menyenangkan.Tapi, karena semua itu dilarang oleh Allah SWT, maka hanya akan menuai siksa dan dosa jika dilakukan. Jika tak bertobat, tentunya nerakalah tempat kembalinya. Naudzubillahi min dzalik.

Memang, islam gak melarang kita menikmati segala macam perhiasan dan pernak - pernik yang ditawarkan dunia, tapi sewajarnya saja kita meraihnya. Jangan sampai kita tertipu dan gelap mata mencintainya untuk terus mengejarnya bak bayangan tak bertepi ato terus dicari seolah tiada bosannya dan tiada akhirnya.Semoga tidak demikian yang kita lakukan. Amieen…

Jangan takut mati

Sobat semua yang pada ngefans sama grup band Ungu, pasti hapal deh lagu “Andai Kutahu” yang sebagian liriknya berbunyi: “Andai Kutahu, kapan tiba ajalku.Kuakan memohon :Tuhan tolong panjangkan umurku. Andai Kutahu, kapan tiba masaku, kuakan memohon: Tuhan jangan Kau ambil nyawaku.Aku takut,akan semua dosa-dosaku.aku takut dosa yang terus membayangiku. . . .”

Hmm….., sayangnya ‘permintaan’ Ungu dari sebagian lirik diatas gak bisa dikabulkan. Sebab, Malaikat Jibril tuh klo mo datang nyabut nyawa kita gak pake ngasih kabar dulu, bahkan tuk sekedar ‘missed call’ sekalipun.Klo ajal kita udah tiba, ya langsung diambil, gitu loch. Gak bisa ditangguhkan.

Sobat Ghur, sebaiknya kita jangan takut menghadapi kematian.Tapi bukan berarti kita lantas menikmati dunia sebebasnya yang kita inginkan seolah gak akan ada kematian.Justru sebaliknya, “jangan takut menghadapi kematian” diartikan bahwa hal itu pasti terjadi.Biasa aja gitu lho.Bahkan dunia ini juga akan berakhir. Itu sebabnya yang diperlukan adalah persiapan. So, tugas kita hanyalah berusaha sebaik dan sebanyak mungkin untuk mengumpulkan pahala.

Boys n galz, orang yang baik pasti akan mati,begitu pula dengan orang yang bermaksiat pasti akan mati juga.Termasuk orang yang giat berdakwah dan berjuang untuk Islam juga akan mati,dan tentu orang yang diam sambil bengong juga bakalan mati.Bedanya adalah nilai dan amal yang dibawanya untuk menghadap Allah SWT.Betul ndak?

Ayo berjuang,seperti pesan Shoutul Harokah dalam bait syair dibawah ini: “Mengarungi samudera kehidupan, kita ibarat pengembara.Hidup ini adalah perjuangan,tiada masa tuk berpangku tangan.Setiap tetes peluh dan darah tuk akan sirna ditelan masa. Segores luka dijalan Allah,kan menjadi saksi pengorbanan . . . .”.Kita bisa kok,sobat! Semangat !!!


SURAT CINTA TERINDAH

Edisi 12 th 2
23 Maret 2007 / 04 Rabiul Awal 1428 H

Sobat pernah dapat surat cinta? Gimana rasanya waktu membaca? Kayaknya,pas mau buka aja udah deg-deg plas nggak karuan. Apalagi pas baca nya. Bahkan kalau surat cinta itu datang dari orang yang diam-diam kita taksir juga, wuih….. diulang-ulang deh bacanya! Kalah deh sama acara ngapalin pelajaran sejarah yang bahannya sejibun dan besok jelas-jelas mau ulangan.

Nah, gitu tuh…..reaksi manusia secara alamiah ketika mendapat perhatian dari orang yang ia kagumi, sayangi atau cintai. Daripada ngelantur ngomongin cinta yang belom tentu juga membawa keselamatan,bahkan jangan-jangan membawa kita ke jurang neraka, mendingan kita coba buka sebuah surat cinta paling tebal didunia. Ehm……surat cinta siapa tuh???

TERINDAH

Dialah Al Qur’an, sebuah kitab suci bukti cinta Allah SWT kepada kita hamba-hambaNya. Mengapa Allah menurunkan kitab suci yang hingga kini masih dijaga keasliannya ini?

Yup!! Jawabannya adalah karena Allah SWT tak ingin kita tersesat sehingga nggak menemukan kebahagiaan dunia apalagi akhirat. Bayangin aja, saking cintanya Allah sama kita, sampai-sampai surat cintaNya itu isinya lengkaaaaaaap banget!!!

Qur’an yang berarti bacaan ini secara lebih luas dimaknai sebagai Kalam Allah SWT yang diwahyukan kepada Rasulullah SAW sebagai mukjizat,yang akan membawa ummat manusia kepada keselamatan dunia dan akhirat. Indah bukan?

Belum lagi kalau sobat telaah isinya. Baik dari tata bahasa yang digunakan, susunan kata-kata, rasa bahasa, dan maknanya. Bikin sobat ketagihan buat membacanya, lagi dan lagi!!!

Kedalaman maknanya membuat kita bahkan bisa merenung, menangis, atau tersenyum bahagia. Coba, mana ada surat cinta atau novel karya sastra sekalipun yang bisa bikin kita begitu rupa? Nggak percaya? Makanya buruan buka dan baca, kalau perlu sama terjemahannya sekalian.

Menurut Muhammad Iqbal, perumpamaan membaca Qur’an itu, setiap hari selalu bertambah makna dan kedalaman isi yang akan selalu kita temukan. So, jangan berhenti untuk terus mengkaji Qur’anmu sedikit demi sedikit, kalau bisa malah tiap hari!!

TERLENGKAP

Al Qur’an terdiri dari 114 surat yang diturunkan dalam dua periode, Makkah dan Madinah.

Ayat-ayat Makkiyah terdiri dari 19/30 bagian darinya, yang terdiri dari 86 surat. Ayat-ayat Madaniyah yang terdiri dari 11/30 bagian isi Qur’an meliputi 28 surat.

Saking lengkapnya, disamping belajar baca Qur’annya, kita juga akan lebih cihuy lagi kalau bisa juga belajar tentang sejarahnya, kodifikasinya, dasar-dasar sistem yang digunakannya, mukjizat- mukjizatnya, juga tata bahasanya. Wuih, bener-bener samudra ilmu deh.

Urutan turunnya ayat-ayat dalam Al Qur’an terpencar. Adakalanya karena ada sebuah peristiwa atau kasus yang menyebabkannya turun, namun sebagian besar turun tanpa sebab-sebab khusus. Setiap turun ayat yang baru, Rasulullah SAW selalu memerintahkan mencatat dan menggandengkannya dengan ayat-ayat yang beliau tunjukkan sendiri. Beliau memiliki beberapa orang sekretaris untuk mencatat dan juga selalu mengadakan persesuaian bacaan dengan Jibril setiap kali turun ayat, disamping selalu mengadakan pengecekan atas bacaan para sahabatnya (murajaah).

Penyusunan lebih lanjut Qur’an sehingga seperti yang kita baca sekarang ini dilakukan oleh sebuah panitia penyusunan mushaf yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit ra, pada masa pemerintahan khalifah Utsman bin Affan ra.

Al Qur’an menjadi sumber utama seluruh ajaran Islam. Ia adalah wahyu Allah terakhir yang menjadi rahmat, hidayah dan obat bagi seluruh manusia ( QS. Al Israa’ ; 82 ). Ia memuat seluruh aturan hidup manusia, dari mulai urusan menjaga aqidah, kebersihan, hingga urusan nikah dan hutang piutang. Lengkap, deh!! Nggak heran kalau dikatakan bahwa Al Qur’an sesuai dengan fitrah manusia. Ia membimbing manusia mengenal Tuhannya, dengan penghargaan yang tinggi terhadap rasio. Ia menyuruh manusia menyelidiki alam semesta,juga dirinya sendiri ( QS. Yunus ; 101 ).

TERHEBAT

Disamping karena gaya bahasanya yang indah, Al Qur’an juga sangat hebat dari segi isi dan ramalan-ramalannya. Jauh lebih hebat dari ramalannya Nostradamus ataupun Jayabaya. Ramalannya tentang akan ditemukannya mayat Fir’aun (QS. Yunus ; 92) terbukti dengan ditemukannya mummi raja kejam tersebut pada 21 abad kemudian, tahun 1881. Nggak mungkin toh kalau Al Qur’an itu dibuat oleh manusia (QS. Al Israa’ ; 88). Allah sendirilah juga yang akan menjaganya sepanjang masa agar tidak ada yang bisa merubah, menambah atau menguranginya.

Al Qur’an juga adalah kekuatan ruhaniyah yang sangat hebat. Hanya dengan mengamalkan Al Qur’an kita dapat menjadi orang-orang yang berpikiran maju dan seimbang dunia akhirat. Ia juga obat bagi ruhani kita. Ia adalah nur petunjuk yang menerangi jalan kita. Ia adalah rahmat dan nikmat bagi mereka yang sedang berjuang menegakkan kebenaran.

Jadi, sebelum kamu sekalian nyesel seumur hidup gara-gara nggak sempet kenal sama kitab sucimu sendiri, mendingan dari sekarang deh belajar lebih jauh tentang Al Qur’an. Alhamdulillah, kalau suatu saat kelak sobat bahkan bisa membantu menjaganya yaitu dengan menghapalkannya amiiin……

YUK KITA BERSYUKUR

Edisi 9/Tahun 2
8 Desember 2006 M / 17 Dzulkaidah 1427 H

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, dan hanya bagi Allah semata. Allah Swt. adalah Dzat yang satu-satunya kita sembah dan kita mintai pertolongan. Nggak ada yang lain. Sebab, Dia telah memberikan segalanya bagi kita dan kehidupan kita. Kayaknya nggak pantes banget kalo sampe kita tidak bersyukur kepadaNya. Minimal banget adalah dengan mengucap “alhamdulillah” atas segala nikmat yang telah diberikanNya kepada kita. Tul gak sih

Sobat muda muslim, bersyukur kepada Allah Swt. adalah sebagai bentuk “serah diri” kita kepadaNya. Kita bisa hidup, sehat jasmani, bisa makan dan minum, bisa mengenyam pendidikan, dan bisa mendapatkan berbagai kenikmatan dunia lainnya. Termasuk, kita wajib bersyukur karena kita menjadi Muslim. Suer, menjadi Muslim itu kebanggaan tersendiri dan tentu saja anugerah terindah yang kita miliki. Nggak bisa ditukar dengan duit sebesar apapun. Itu sebabnya kita wajib bersyukur.

Ya, jangan sampe kita bisa mengucap alhamdulillah hanya saat dapetin makanan dan minuman yang enak atau bentuk materi lainnya. Dan kita merasa inilah yang harus kita syukuri. Itu benar. Tapi, kalo menganggap bahwa kenikmatan hanya sebatas makanan dan minuman aja, kayaknya perlu di-upgrade deh pemahamannya. Karena Allah Swt. nggak cuma ngasih itu, tapi udah ngasih kita pendengaran, penglihatan, dan juga akal. Justru inilah pemberian yang termasuk berharga banget buat kita. Tentu, wajib kita bersyukur atas nikmat-nikmat tersebut. Kalo nggak? Waduh, jangan sampe dech Allah Swt murka kepada kita.

Seorang sahabat Nabi saw. bernama Abû Dardâ ra pernah mengatakan, “Barangsiapa yang tidak melihat (merasakan) nikmat yang Allah berikan kepadanya kecuali hanya pada makanan dan minumannya, maka sesungguhnya ilmu (ma’rifat-nya) sangat dangkal dan azab pun telah menantinya” (Abu Hayyân al-Andalusi, al-Bahr al-Muhîth fî al-Tafsîr, jilid 6, hlm 441. maktabah Tijariyyah Musthafa al-Baz).

Dalam al-Quran Allah azza wa jalla menyampaikan firmanNya:
“Katakanlah: “Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati (akal)”. Tetapi amat sedikit kamu bersyukur(Q.S. Al-Mulk[67] : 23)

Wah, wah, Allah seolah-olah ‘nyindir’ ama kita-kita nih kalo sampe kita nggak bersyukur kepadaNya. Tapi kalo dipikir-pikir emang bener juga sih. Manusia di seluruh dunia ini, kayaknya sedikit juga yang benar-benar bersyukur (lha, buktinya Allah Swt. menyatakan dalam firmanNya begitu). Silakan kamu tengok kanan-kiri, depan-belakang. Teman kita, tetangga kita, atau bahkan kita sendiri malah gak bersyukur dengan nikmat ini. Duh, malu dech.

Kalo emang benar-benar bersyukur sih, kita harusnya bisa memanfaatkannya untuk kebaikan seraya memuji Sang Pemberi nikmat, yakni Allah Swt. Memuji tentu bukan sekadar mengucap “alhamdulillah”, tapi juga terwujud dalam perilaku dan gaya hidup kita yang hanya mau diatur oleh Allah Swt.

Diatur? Yup, karena kita udah berjanji dalam sholat wajib lima waktu sehari. Paling nggak kan dalam sholat baca surat al-Fatihah sebanyak 17 kali sehari. Ada pengakuan jujur dari kita bahwa hanya Allah sajalah, tiada yang lain yang disembah dan dimintai pertolongan: “Iyyaaka na’budu wa iyyaakanasta’iin”.

Dalam ilmu balaghah, untuk menggambarkan makna “membatasi” atau pengkhususan dikenal dengan istilah “Taqdiimu maa ahaqqohu at-ta’khiiru” (mendahulukan yang seharusnya diakhirkan). Seperti dalam kalimat “Iyyaka na’budu” (hanya Engkaulah yang kami sembah). Berarti ini menutup kemungkinan bagi yang lain yang akan kita sembah. Akan berbeda jika ditulis: “Na’budu iyyaka” (kami menyembahMu). Secara ilmu nahwu boleh juga ditulis seperti itu. Tapi rasa bahasanya lain, dan pernyataan itu masih ada kemungkinan untuk menyembah yang lain selain Allah Swt.

Itu sebabnya, dalam hidup ini hanya kepada Allah sajalah kita menyerahkan segala urusan. Bukan kepada yang lain. Itu artinya pula, bahwa hanya kepada Allah sajalah kita menghaturkan pujian sebagai rasa syukur atas karuniaNya kepada kita selama ini.

Bersyukurkah Kita?

Waduh, nggak berani deh tunjuk jari kalo diajukan pertanyaan seperti ini. Tapi, sejujurnya emang kepengen banget menjadi orang yang bersyukur. Bahkan ingin tetap menjadi hamba yang bersyukur kepada Allah Swt.

Ibnu Qayyim al-Jauziyah, seorang tokoh ulama terkemuka, menjelaskan bahwa hakikat syukur kepada Allah itu adalah tampaknya bekas nikmat Allah pada lisan sang hamba dalam bentuk pujian dan pengakuan, di dalam hatinya dalam bentuk kesaksian dan rasa cinta, dan pada anggota tubuhnya dalam bentuk patuh dan taat. (Ibn Qayyim al-Jauziyah, Tahdzîb Madârij al-salikin oleh Abdul Mun’im al ‘Izzi, hal. 348)

So, kita bisa ngukur diri kita dengan penjelasan dari Ustadz Ibnu Qayyim ini. Lisan kita apakah selalu mengucap pujian dan pengakuan kepada Allah Swt. Sang Pemberi nikmat kepada kita? Apakah lisan kita terbiasa mengucapkan alhamdulillah? Atau malah nggak pernah sama sekali? Termasuk mengakui Allah Swt. sebagai Pencipta sekaligus yang memberi nikmat kepada kita? Pertanyaan ini cuma kita sendiri yang bisa jawab. Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang bersyukur. Terus, dalam hati kita, apakah udah kita wujudkan dalam bentuk kesaksian dan rasa cinta kepada Allah Swt. Bersaksi bahwa tidak ada Dzat yang wajib disembah kecuali Allah Swt. Itu sebabnya, tumbuh rasa cinta yang paling kuat dan besar hanya kepada Allah Swt. Sebagaimana Allah Swt menjelaskan dalam firmanNya:

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat (besar) cintanya kepada Allah(Q.S. Al-Baqarah[2] : 165)

Lalu, membekaskah rasa syukur kita kepada Allah dengan penampakkan anggota tubuh kita dalam bentuk patuh dan taat kepadaNya? Mari kita mengukur diri kita. Seberapa pantas kita bersyukur yang terwujud pada patuh dan taat kepada Allah Swt. Kita bisa bertanya, apakah selama ini, kita sudah patuh dan mentaati perintahNya? Sholat, puasa wajib Ramadhan, dan zakat pernah kita lakukan dengan sungguh-sungguh karena ketaatan dan kepatuhan kita kepadaNya.

Bagaimana dengan kehidupan kita? Apakah dalam kehidupan sehari-hari kita sudah mematuhi perintahNya? Kewajiban menutup aurat misalnya, udah ditetapkan Allah Swt. dan Rasulnya. Bagi anak cewek yang udah baligh, nggak boleh keluar rumah menampakkan auratnya. Jadi, harus ditutup tubuhnya dengan busana muslimah, yakni jilbab dan kerudung.

Anak cowok yang udah baligh juga sama, meski batasan auratnya nggak seketat anak cewek, anak cowok kalo keluar rumah daerah pusar ame lutut kudu tertutup. Karena itu auratnya. Kayaknya udah pada paham deh soal ini. Yang perlu diingatkan lagi tuh pengamalannya. Sebab, ngamalinnya emang yang rada-rada males, gitu. Pantesan Allah Swt. menyindir manusia karena ternyata sangat sedikit yang bersyukur kepadaNya.

Imam Ibn Qayyim dalam kitab yang sama lebih lanjut menjelaskan bahwa syukur itu mempunyai 5 (lima) pilar pokok yang apa bila salah satunya tidak terpenuhi maka syukur menjadi batal dan dianggap belum bersyukur.

Lima pilar pokok itu adalah: Pertama, kepatuhan orang yang bersyukur kepada Pemberi nikmat. Kedua, mencintaiNya. Ketiga, mengakui nikmat dariNya. Keempat, memujiNya atas nikmatNya. Dan yang kelima, tidak menggunakan nikmat yang diberikanNya untuk sesuatu yang tidak Dia sukai.

Sobat muda muslim, ini penting banget kita ketahui. Biar kita bisa bersyukur kepada Allah Swt. dan dengan cara yang benar. Khusus penjelasan terakhir dari pilar pokok bersyukur, yakni nggak menggunakan nikmat yang diberikanNya untuk sesuatu yang nggak Dia sukai. Jelas banget. Lha kalo ortu kita aja ngasih duit ke kita, terus duit itu kita gunakan buat hura-hura dan bahkan maksiat, pasti ortu kita marah besar. Nah, apalagi Allah Swt.? Tul gak sich?

Seperti kemarin-kemarin ada syukuran atas kemerdekaan negeri ini. Acara “Tujuhbelasan” dirayakan dengan meriah di berbagai tempat. Sebagian besar dari kita suka-cita. Tapi, begitukah cara bersyukur? Atau pertanyaan yang seharusnya: “Benarkah sudah merdeka jika ketaatan, kepatuhan, dan penyerahan diri ditujukan bukan kepada Allah Swt? Benarkah kita harus merasa bergembira dan bersyukur sementara aturan Sang Pemberi nikmat malah dicampakkan? Lalu setia diatur oleh sistem Kapitalisme-sekularisme dengan instrumen politiknya bernama demokrasi?” Ah, betapa akan murka Allah Swt kepada kita. Na’udzubillahi min dzalik.

Terusirnya penjajah dari negeri kita memang anugerah. Tapi, kalo kemudian pemberian itu malah diisi dengan cara menjadikan hukum selain Allah sebagai pengatur kehidupan berbangsa dan bernegara, ya tentunya belum dikatakan bersyukur. Karena udah mengkhianati Sang Pemberi nikmat, yakni Allah Swt., ketika kita nggak mau diatur oleh syariatNya. Nggak adil en gak pantes mengkhianati Allah Swt. tolong catet ye…

Bersyukur dan Ridha derngan AturanNya

Yuk, kita bersyukur. Baik dalam lisan, hati, dan perbuatan kita. Harus kita wujudkan tuh jika benar-benar mengakui dan mencintai Allah Swt. yang udah ngasih begitu banyak nikmat kepada kita sebagai manusia. Bukan cuma karena kita Muslim. Sebab, al-Quran sebenarnya adalah kabar gembira dan peringatan bagi manusia secara umum. Manusia yang sadar dan beriman tentu beda banget dengan yang nggak sadar dan nggak beriman. Tul nggak sih? So, jangan sampe menunggu Allah murka kepada kita gara-gara kita gak bersyukur dengan benar kepadaNya.

Sobat muda muslim, pembuktian kalo kita bersyukur itu adalah tunduk dan patuh kepada aturan yang ditetapkan oleh Allah Swt. Itu sebabnya, jangan coba-coba malapraktik dengan cara kita sendiri untuk ngatur kehidupan manusia. Pedoman hidup kita cukup al-Quran saja. Bukan aturan yang lain. Dalam firmanNya:

Sesungguhnya al-Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar,” (QS al-Israa’ [17]: 9)

Dalam ayat lain Allah Swt. menyampaikan (artinya): “Kitab (al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,” (QS al-Baqarah[2] : 2)

Jadi, Allah Swt. memang meminta kita mentaati petunjukNya. Tapi kalo kita bandel, malah memilih petunjuk selain aturan Allah untuk jalan hidup kita, berarti kita belum bersyukur dan justru malah mengkhianatiNya.

Allah Swt. mengingatkan kita dengan firmanNya (yang artinya): “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, (dengan) kesesatan yang nyata.” (QS al-Ahzab [33]: 36)


Oke deh sobat, semoga kita menjadi hamba yang bersyukur dan taat kepadaNya. Amin…..

SOULFUL

Edisi 4 tahun 2
4 Agustus 2006 M/10 Rajab 1427 H

Sobat, kalo menurut kamu Ghur nulis judul ini karena ada hubungannya dengan musik soul atau Rubben Studart, finalis American Idol yang suaranya nge-soul banget. Berarti kamu salah besar. Weit..kok salah sih? Yup, soalnya judul kita sekarang jauh banget dari lagu dan musik, meski di atas tadi nyinggung dikit. Dikit-dikit nyinggung, dikit-dikit nyinggung, nyinggung kok dikit-dikit…wah ngelantur nih. Soalnya, yang kita pengen bagi ama sobat semua di buletin ini adalah info dan bahasan soal soul (jiwa). Plus hubungannya dengan remaja. Ini penting loh…Lho kok bisa? Ya bisa dong, tapi kita ga bisa jawab kalo kamu ga baca buletin ini sampe kelar. Kenapa? Ya gitu deh. Eh, tambahan juga nih, kalo perlu edisi ini kamu bawa kemana-mana. Kenapa lagi? Supaya bisa nemeni kamu saat sendiri. Walah!! Enggak lah. Biar bisa nyadarin kita semua kalo perlunya semangat dalam jiwa untuk mencintai, mempelajari, memahami dan mendakwahkan Islam. Yuk kita baca sama-sama dengan soulful…

Sobat, menurut Prof. Drs. S. Wojowasito dan W. J. S. Poerwadarminta dalam Kamus Lengkap Inggris-Indonesia. Soul dalam bahasa Inggris berarti jiwa. Sedangkan kata soulful bermakna penuh dengan semangat yang menyatu dalam jiwa. Lawan dari kata soulful adalah soulless yang artinya tanpa jiwa. Weit..kita ga ngajarin bahasa Inggris nih. Cuman ngasih tahu aja. Konkritnya gimana sih? Gini, kalo sobat semua masih ga mudeng, kita kasih contoh aja yach. Soulful bisa dicontohkan dengan semangat orang-orang yang lagi ngangkat senjata dan berperang. Lebih konkritnya lagi, para mujahid yang berjihad di jalan Allah. Allahu Akbar!! Sedangkan soulless bisa digambarin sebagai orang-orang yang menjadi pasien di RSJ, ngerti kan, ya bener Rumah Sakit Jiwa. Meski mereka memiliki nyawa dan indera namun, mereka ga punya jiwa dan kesadaran. Istilahnya, ga ada feel dalam raga mereka. Hasilnya ya bisa dilihat sendiri. Kasihan ya…Nah itu tadi contoh konkritnya. Bener ga sih, kalo kita kudu jelas kalo mau menerangin sesuatu? So pasti gitu deh, soalnya segala hal itu kudu konkrit, konkrit dan konkrit. Cool banget ga sih gaya gue. Halah…


Soulful versus Soulless

Sobat, kenal kan Bill Gates? Ya..kalo kenal, dimana kenalannya? Chatting? Halah, ngelantur lagi…Nah kalo kenal, asal ngerti aja kalo saking soulful banget untuk ngembangin bisnisnya si doi, Bill Gates, di usianya yang ke-19 tahun sudah berhasil bikin program komputer. Enam tahun kemudian di usianya ke-25 tahun, dia sudah berhasil bikin perusahaan sendiri dan terbesar di seluruh dunia, tahu kan Microsoft. Gokil ga sih. Selain Mr. Bill, kalo dari tokoh Islam , kita kenal yang namanya Ibnu Sina (Avicenna). Yang soulful berat dalam studi. Saat umur 17 tahun, Ibnu Sina belajar kedokteran dan setahun kemudian sudah jadi dokter. Buusseet. Ini namanya belajar ngebet abis. Pas usia 21 tahun, buku satu perpustakaan terbesar dan terkenal di jamannya sudah habis dinikmati. Dibaca maksudnya, ga dimakan loh. Saat itu juga beliau mulai nulis buku tentang kedokteran yang kemudian menjadi acuan seluruh dunia. Kebayang ga sih…

Itu tadi dua contoh insan yang soulful dalam menjalani hidup. Mereka berdua juga manusia seperti kita. Apalagi rocker? Rocker kan juga manusia. Halah….Back to our topic, dua contoh pribadi tadi menjalani kehidupan juga sama seperti kita. Makan, minum, tidur, mandi, de el el. Satu hari satu malam, juga sama 24 jam, ga ada bedanya ama kita sekarang. Hanya dua perbedaan besar antara mereka dan kita. Yang pertama mereka mampu mengatur waktu dengan efektif dan efisien, dan yang kedua mereka soulful banget dalam memanfaatkan tenaga, pikiran dan kemampuannya. Akhirnya, mereka mampu memberikan hasil yang terbaik untuk hidupnya. Makanya soulful itu penting berat bro…
Jangan mau deh kita jalani hidup dengan soulless. Akibatnya bisa jadi bom harakiri buat kita. Hidup
kan cuman sekali. Maka jangan disiakan deh. Salah berat kalo kita beranggapan hidup yang cuma sekali ini dipake bermain-main atau berhura-hura semata. Nyesel kita nantinya. Dan kalo udah nyesel, waktu ga bisa balik lagi deh. Andaikan aja waktu bisa balik lagi, pasti kamu adalah…Doraemon. Halah lagi…


Kiat Menjadi Soulful

Ga susah kok kalo kita ingin semangat dalam melakukan sesuatu. Tapi bukan berarti segampang membalik telapak kaki (bosan ah telapak tangan terus). Komitmennya (atau tekadnya) kembali pada diri kita. Dan gimana konsisten (bahasa gaulnya teguh pendirian) kita untuk berubah. Kenapa? Ya semangat seseorang kadang-kadang bisa turun naik. Tergantung pada dorongan untuk apa dia berbuat. Kita beri contoh ya…Tapi ini contoh soulful yang salah loh. Sobat, ngerti kan kalo ada orang yang lagi bisnis. Nah namanya juga usaha datangin uang, maka segala hal yang bisa bikin rupiah ada di tangan, ya bakal dia lakukan dengan semangat (soulful). Apalagi kalo kepepet. Wah udah. Orang yang semangat tapi salah arah, adalah pas dia ga mandang halal dan haram untuk melakukan sesuatu. Segalanya, asal sambar aja. “Tancap abis…”katanya. Yang penting money alias duit dapat dipingit. Dikit-dikit duit, dikit-dikit duit, duit kok dikit-dikit. Halah….

Sobat, itu tadi sekedar deskripsi orang-orang kapitalis. Ngerti kan kaptalis itu apa? Ya benar…, orang yang hidupnya dipake cuma untuk menyembah uang dan harta. Gaya hidupnya hedonis alias buang-buang uang. Uang kok dibuang-buang sih, kasih kita aja. Halah-halah. Bahkan hanya gara-gara kepepet masalah uang dan ingin hidup serba mewah, tak jarang diantara mereka ada yang sampe jual togel, narkoba, VCD porno, hingga melacurkan diri. Aduh, amit-amit jabang babreng!! Tapi contoh ini jangan ditiru yach, ini hanya sekedar gambaran aja. Tapi jangan digambar beneran.
Terus gimana soulful yang bener itu? Nah, kalo masalah ini, kita juga akan ngasih contoh perilaku sahabat Rasulullah SAW. Saat itu pas perang Mu’tah (dengerin…ini kisah nyata loh). Kaum muslimin yang berjumlah 3000 orang berhadapan dengan 100.000 tentara
Persia ditambah 100.000 tentara Romawi. Gile, timpang banget kan. Tapi apakah kaum muslimin yang kalah jauh jumlah kekuatan dan pasukan terus mundur dan lari dari medan jihad? Tentu aja tidak. Malahan nih salah seorang sahabat Rasul yang bernama Abdullah bin Ruwahah justru berteriak di tengah-tengah sahabat Rasul yang lain “Hai kaum muslimin, demi Allah, sesungguhnya sesuatu yang kalian benci, justru kalian cari, yaitu syahid! Kita keluar untuk berperang bukan karena jumlah kita yang besar, bukan karena kekuatan, dan bukan karena pasukan yang banyak. Tapi kita berperang dengan agama (Islam), yang telah Allah muliakan. Marilah kita maju! Sesungguhnya di tengah kita akan ada satu di antara dua kebaikan, menang atau mati syahid!” Maka semua sahabat Rasul menyambutnya dengan takbir, “Allahu Akbar!” Mereka kemudian maju dan menang. Subhanallah.

Itu tadi contoh soulful yang bener. Soulful yang sejati. Ya..semangat yang muncul dari dalam jiwa manusia. Berupa keimanan. Aqidah Islam.yang bisa memompa adrenalin untuk bergerak dan menyampaikan kebenaran. Ya..meskipun terkadang pahit untuk dikatakan. Dan terkadang resiko yang berat ada di hadapan. Seharusnya kita pantang menyerah bro. Hanya saja, sekarang soulful yang haq ini sedikit demi sedikit udah mulai terkikis dari jiwa kita, para remaja Islam. Padahal hanya dengan soulful seperti inilah, remaja Islam bakal bisa nemuin jati dirinya. Dari mana dia berasal, untuk apa dia hidup dan akan kemana setelah mati. Anehnya kita sekarang malah lebih senang dengan semangat semu. Yang gampang berubah. Dan mudah ter-erosi oleh budaya barat. Hasilnya, kita hanya sekedar orang, dengan nyawa dan indera, tanpa jiwa dan kesadaran di dalamnya. Tul ga sih?

Mau bukti? Gampang, tapi ingat ini hanya contoh lo ya..jangan kesindir. Tapi kalo ngerasa kesindir, cepet-cepet istighfar deh, berarti memang ada yang salah pada diri kita. Nah, pas MOS (Masa Oreiantasi Siswa) kita dibentaki senior, padahal kita ga salah, tapi kita diem dan mau aja. Kita mengiyakan juga pas MOS, saat kakak kelas ngasih kita tugas atribut yang ga ada hubungannya dengan sekolah (semisal, topi kerucut, memake nama panggilan gantung, tas dari plastik, kardus dan sebagainya). Padahal kita justru keliatan (sorry) culun banget pas mengenakannya. Iya kan? Kita SMA loh fren…bukan anak TK lagi. Kita udah dewasa. Kita udah ngerti mana yang bener dan mana yang salah. Ortu kita udah mati-matian banting tulang untuk nyekolahin kita. Eh di sekolah, kita digituin malah diem aja. Dosa loh kita sama ortu. Jangan mau dibohongi donk. Padahal Rasulullah SAW bersabda, “Katakan yang haq meskipun itu pahit.”(Al Hadits).


Nah, udah saatnya sekarang melatih soulful kita yang haq. Dengan apa? Mengkaji dan memperdalam Islam. Sehingga kita menjadi insan kamil (manusia seutuhnya). Ga timpang sebelah. Karena hanya dengan Islam saja, semangat yang sejati bisa kita dapat. Mau pinter, cerdas, kaya dan sebagainya…silahkan aja. Tapi kita harus memulainya dengan start awal yang bener. Dengan belajar Islam secara kaffah dan serius. Tanpa itu, nonsense bro…Seperti halnya firman Allah SWT, “Dan katakanlah: “Kebenaran telah datang, dan kebatilan telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (QS. Al Israa’: 81). Jadilah perfect dengan Islamic soul

Ayo Kita Belajar Lagi !!!

Edisi 03 tahun 2
21 Juli 2006 M / 25 jumadil akhir 1427 H

Lakukan sekarang juga. Jangan tunda hari esok. Belajar yang banyak dan terus belajar. Duiele kesannya “sadis” banget neh ( bossy ya? Hehehe). Tapi nggak apa-apa, ini bukan doktrin, tapi anggap saja sebagai penyemangat kita-kita untuk tetap terus belajar. Sampai kapan pun. Pokoknya, tiada hari tanpa belajar. Kamu bisa belajar di sekolah, di pesantren, di majelis taklim, di rumah, di masyarakat sekitar, dari koran, majalah, tabloid, televisi, radio, internet, termasuk di warung kopi, angkutan umum, dan seabrek fasilitas lainnya. Kamu bisa belajar apa pun dari tempat-tempat tersebut. Nggak perlu males. Dan memang gak boleh males. Oke? Semangat terus!

Sobat muslim, belajar emang bikin kita jadi cerdas. Jangan khawatirkan kemampuan otak kita untuk menerima masukan informasi. Nggak bakalan luber. Kalo tong sampah sih iya, makin banyak diisi, bisa luber juga meski ukurannya udah segede apa tahu. Tapi otak kita, meski kecil namun memiliki ruang penyimpanan memori yang cukup luas. Ukuran mini kualitas maxi , begitu kata-kata yang bisa kita contek dari sebuah iklan untuk menggambarkan potensi otak kita.

Sekadar tahu aja, saya kutipkan neh dari bukunya Pak Fauzil ‘Adhim, Dunia Kata , beliau menuliskan beberapa pendapat pakar tentang kemampuan mengingat dari manusia. Di antaranya pendapat John Griffith, seorang ahli matematika mengatakan, “Setiap manusia normal mampu mengingat 1.000.000.000.000 (10 11 ) bit informasi”. Sementara John von Neumann, ahli teori informasi, menghitungnya sampai 280.000.000.000.000.000.000 (280 diikuti delapan belas angka nol di belakangnya) atawa 280 kuintiliun bit). Oya, kamu perlu tahu, bahwa setiap satu bit mewakili satuan informasi terkecil. Misalnya “ya”, “tidak”, “i” atau “o”, “on” atau “off”.

Nah, jadi sebenarnya nggak ada alasan untuk males belajar. Kalo masih ada yang bilang bahwa dengan banyak belajar ubun-ubun kita bisa ngebul, itu cuma karena kita nggak bisa mengelola waktu dan cara belajarnya aja. Kalo baik mengelolanya, insya Allah bisa deh kita belajar dengan efektif tanpa perlu ubun-ubun ngebul. Menurut Ghur sih itu cuman factor kelelahan, baik fisik maupun psikis. Itu aja.

Kita mampu mengingat informasi sebanyak itu? Bisa kok. Cobalah tengok teman-teman yang kebetulan hapal al-Quran yang jumlah juz-nya 30 itu (dan ingat, tentunya ia juga hapal tajwid-nya). Hebat banget tuh. Padahal buat kita yang nggak biasa belajar dan ngapalin seluruh isi al-Quran bakalan tekor tuh. Jangankan tiga puluh juz, juz 30 (Juz ‘Amma) aja kayaknya kita banyak yang nggak hapal

Nah, itu baru hapal Quran, gimana dengan mereka yang hapal Quran sekaligus hadis? Imam Bukhari contohnya, beliau sanggup menghapal ratusan ribu hadis lengkap dengan sanad dan rawinya. Imam Syafi'i, Imam Malik, Imam Abu Hanifah, dan Imam Ahmad bin Hambal pun, empat mujtahid yang hasil ijtihadnya banyak dijadikan rujukan kaum muslimin di seluruh dunia ini merupakan ulama sekaligus pelajar andal yang sanggup menguasai seluk-beluk ilmu fiqih. Subhanallah. Dan itu, nggak ujug-ujug bisa, tapi melalui proses belajar yang cukup lama, panjang dan bahkan melelahkan.

Sobat muslim, kita insya Allah bisa. Bisa pinter, bisa punya wawasan banyak. Semuanya karena dimulai dengan belajar. Ya, belajar. Terus dan terus. Bahkan Imam Syafi'i dalam mencari ilmu memiliki semboyan yang bagus banget. Kata beliau, “Carilah ilmu seperti halnya seorang ibu yang kehilangan anak wanitanya.” Artinya, dicari terus sampe dapet. Nggak pernah bosen, nggak pernah malas, nggak pernah putus asa. Belajar terus sampe dapat ilmu banyak. Jangan heran kalo Imam Syafi'i begitu dihargai dan dihormati kaum muslimin karena tingkat keilmuannya yang fantastis. Sekali lagi, itu Cuma bisa diraih dengan belajar. Nggak belajar, ya gak dapet apa-apa. Tul gak?

Oya, Allah Swt. akan meninggikan derajat bagi orang-orang yang beriman dan berilmu. Jadi berbahagialah kalo kita udah beriman dan berilmu. Allah Swt. udah ngejelasin dengan gambling dalam firmanNya:

“...niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (Q.S. al-Mujaadilah: 11)

Bahkan nih, saking pentingnya punya ilmu dan ketakwaan, Imam syafi'i pernah bilang begini, “Sesungguhnya kehidupan pemuda itu, demi Allah hanya dengan ilmu dan takwa (memiliki ilmu dan bertkwa), karena apabila yang dua hal itu tudak ada, tidak dianggap lahir (dalam kehidupan).”

Wadau, mau disindir kayak gitu? Nggak lha yauw. Makanya, untuk bisa punya ilmu dan ketakwaan, resepnya cuma satu: belajar!!! Bener lo, kagak bo’ong. Suer banget

Maka, untuk urusan belajar ini, nggak salah dong kalo Rasulullah saw. menyampaikan: “Apabila Allah menginginkan kebaikan bagi seseorang maka dia diberi pendalaman dalam ilmu agama. Sesungguhnya memperoleh ilmu hanya dengan belajar” (HR Bukhori)

Belajar dari mereka yang berhasil

Nah, sebagai pemuda, kita harus memiliki ilmu dan ketakwaan. Bisa berilmu dan bertakwa pastinya kalo udah belajar dong ya. Jadi intinya, jangan malas belajar. Kita kepengen banget menjadi kebanggaan umat dan agama Allah ini. Kayaknya, kita mesti mencontoh Usamah bin Zaid yang masih muda belia, usianya 18 tahun saat diangkat menjadi Panglima Perang oleh Rasulullah saw. untuk memimpin pasukan kaum muslimin dalam penyerbuan ke wilayah Syam yang berada di bawah kekuasaan Romawi pada waktu itu. Menakjubkan bukan???

Usamah bin Zaid memang jago bin ahli perang. Keahliannya itu diperoleh karena terus mengasah diri untuk belajar. Karena, emang nggak ada orang yang langsung bisa pinter dan lihai keterampilannya tanpa melalui proses belajar. Ali bin Abu Thalib satu dari sekian ribu sahabat Rasulullah saw. Yang diberikan pujian oleh Rasulullah sebagai sahabat yang berilmu tinggi

Eh, sobat tahu Linkin Park kan? Grup band asal California yang sempet bikin goncang Jakarta, memang fenomenal. Salah satu lagunya yang asyik punya adalah “Breaking the Habit” . Mike Shinoda, pentolan grup band yang mengusung irama musik “gado-gado” ini, ternyata mencipta lagu asyik tersebut selama hampir enam tahun. Jelas, selama hampir enam tahun itu nggak mungkin nggak belajar. Pasti dia belajar dan terus mengembangkan lirik tersebut lengkap dengan iramanya yang nyetel abis. Hasilnya, lumayan menggebrak, sampe-sampe kamu yang ngefans nggak nyadar udah melantunkan potongan syair: “...I don't why I got this way/ I know it's not alright/ So I'm/ Breaking the habit tonight…” yang suka dibawain sama suara serak dan sedikit berteriak milik chester Bennington

Sobat muda muslim, David Beckham, meski udah jago ngegocek bola, tapi dia merasa harus terus belajar untuk meningkatkan kualitas sepakannya, terutama kalo kebetulan jadi eksekutor tendangan bebas langsung ke gawang. Setiap malam sehabis latihan rutin, suaminya Victoria Adams ini selalu belajar dan berlatih untuk menendang bola agar masuk ke lubang ban mobil yang digantung di tiang dari jarak tertentu. Hasilnya? Kapten timnas Inggris ini masuk jajaran eksekutor tendangan bebas yang berbahaya bagi kipper lawan

Sekedar Tips

Sobat muda muslim, saya yakin kalo kamu pun udah pada punya tips sendiri untuk selalu belajar dalam hidup ini. Itu akan menjadi patokan buat kita dalam melangkah. Intinya sih, jangan malu dan malas untuk belajar. Oke deh, ni ada sedikit tips buat kamu:

Jangan cepat puas. Perasaan cepat puas dalam diri kita kudu segera dikubur dalam-dalam. Nggak baik cepat puas ketika belajar. Jangan sampe baru bisa belajar di level 2 (dalam skala 10) kita udah merasa cukup puas. Lalu malas belajar. Dalam urusan yang lain, cepat puas boleh-boleh saja kok. Misalnya, udah puas bisa meraih kekayaan materi. Tapi dalam mencari ilmu, jangan cepat puas dengan hasil yang udah kita dapet. Cari terus sebanyak-banyaknya. Yup, belajar tak pernah henti. Terus belajar sampai mati

Meluangkan waktu untuk belajar lebih banyak. Ini perlu banget sobat. Untuk kesuksesan kita juga kok. Konon kabarnya Bill Gates saja, untuk bisa membangun kerajaan bisnis Microsoft, pergi jam 6 pagi dan pulang jam 2 dinihari. Ia melakukan riset dan belajar serta mengembangkan program-program andalan yang kelak bisa dinikmati masyarakat dunia. Sekarang, selain pinter, jumlah kekayaan doi setara dengan jumlah total kekayaan dari seperempat jumlah total penduduk Amrik (jumlah penduduk Amrik pada tahun 2004 aja, adalah sekitar 280 juta jiwa. Wow!). Tahun 2006 ini doi kembali jadi juragan terkaya di dunia. Jadi, luangkan waktu lebih banyak untuk belajar. Jujur saja, waktu 24 jam dalam sehari tiap orang sama. Allah memberikan sama kepada setiap orang. Mereka yang berhasil dan sukses biasanya yang pandai memanfaatkan waktunya. Ada yang memanfaatkan waktu luang dengan santai, ada yang malah belajar. Jadi, yang membedakan mereka yang sukses dengan yang gagal salah satunya adalah dengan memanfaatkan waktunya. Betul nggak?

Jangan porsir otak kita. Meski memiliki kapasitas penyimpanan memori yang besar, tapi perlakukan otak kita dengan baik. Jangan porsir dengan terus-menerus. Biarkan beberapa waktu otak kita melakukan relaksasi dan pelemasan. Hibur dengan berbagai aktivitas yang menyegarkan dan menyenangkan. Misalnya dalam liburan ini kita ajak otak untuk jalan-jalan menikmati keindahan alam atau berpikir untuk yang ringan dulu. Tapi jangan kebanyakan waktu nyantai dan ringannya ya khawatir nanti otak kita merasa terbiasa nyantai dan malah susah lagi untuk diajak belajar. Kan berabe tuh. Jadi, sewajarnya aja

Manfaatkan kesempatan sebaik mungkin. Kata pepatah, kesempatan cuma datang sekali. Jadi, bersiaplah untuk menyambutnya. Lakukan sekarang juga, jangan tunggu esok. Saat ini, ketika masih muda, kesempatan itu segera manfaatkan untuk belajar. Jangan tunggu hari esok, apalagi kalo udah tua, selain susah mengingat, juga cepat lelah tenaga. Nggak mau dong kamu kayak gitu? Belajar tuh kapan aja, di mana saja, dan kepada siapa aja. Kalo ada kesempatan, langsung deh manfaatkan. Oke?

Pelajari, pahami, dan amalkan. Nah, ini penting juga sobat. Karena kita anak ngaji, maka nggak cuma belajar doang, tapi setelah dipahami kudu diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Buat kita, dan juga buat orang lain. Jadi memang kudu didakwahkan. Soalnya memang sayang banget, kita udah banyak tahu selama belajar, kita juga udah paham luar-dalam, tapi nggak disampaikan lagi ke orang lain. Jangan sampe begitu deh

Sobat muda muslim, itu sekadar tips kecil aja kok. Moga bisa memberikan nilai yang berarti buat hidup kita. Sebagai anak sekolahan, kita juga nggak bisa cukup puas diri dengan hasil yang udah kita peroleh selama ini. Sebaliknya, karena tantangan dakwah kian besar, semangat kita untuk memiliki ilmu yang banyak tentunya kudu terus dikobarkan. Nggak boleh padam. Jangan sampe kalah semangat oleh mereka yang memiliki tujuan hidup lebih rendah dari kita. Sebagai pengemban dakwah, kita belajar untuk bisa mengasah kemampuan kita dalam memberikan pencerahan kepada orang lain. Lebih mulia dalam pandangan Allah, bukan?

Nah, untuk memiliki semua ilmu, khususnya yang berkaitan dengan ajaran dan dakwah Islam, nggak ada cara lain kecuali belajar, belajar dan belajar. Ayo, kamu bisa!!! Ghur percaya kamu bisa!!!!